lldikti5@kemdiktisaintek.go.id +628112982558 FAQ ID EN

IPK Tinggi Saja Tak Cukup Hadapi Dunia Kerja Era Disrupsi

Perubahan sosial dan ekonomi di era disrupsi menuntut generasi muda untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kreativitas, daya juang, serta kepedulian sosial. Persaingan individu yang semakin ketat, menyusutnya kelas menengah, hingga rendahnya kompetensi tenaga kerja menjadi tantangan yang diperkirakan akan dihadapi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa dinilai memiliki peran penting sebagai kelompok intelektual yang mampu menghadirkan gagasan dan karya nyata yang berdampak bagi masyarakat luas.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., menilai mahasiswa tidak cukup hanya beradaptasi dengan perubahan zaman, tetapi juga harus mampu membangun kapasitas diri dan keberanian untuk menciptakan perubahan di tengah masyarakat.

“Mahasiswa perlu membangun lingkungan yang mampu mendorong kemajuan diri. Kebiasaan membaca buku tokoh-tokoh besar dan bergaul dengan orang-orang inspiratif menjadi salah satu cara untuk membentuk pola pikir yang berkembang dan berani menciptakan perubahan,” ungkap Prof. Zuly dalam Talkshow Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia bertema “Menyongsong Peran dan Aksi Nyata Mahasiswa dalam Pemberdayaan Masyarakat”, Selasa (26/5), di Gedung Djarnawi Hadikusuma UMY.

Selain menekankan pentingnya membangun kapasitas diri, Zuly juga menyoroti ancaman era disrupsi terhadap masyarakat Indonesia. Menurutnya, periode 2021–2030 diprediksi menghadirkan persaingan individu yang semakin kompetitif. Kondisi tersebut harus menjadi peringatan bagi mahasiswa agar tidak hanya mengandalkan nilai akademik semata. Dunia kerja saat ini membutuhkan individu yang memiliki kemampuan komunikasi, kreativitas, serta keberanian menciptakan solusi nyata di tengah masyarakat.

“IPK itu penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang bisa diandalkan. Sekarang banyak orang memiliki IPK tinggi, sehingga mahasiswa perlu memiliki kemampuan lain yang membuat dirinya berbeda. Public speaking, kemampuan meyakinkan orang, dan kemampuan menciptakan sesuatu, itulah yang akan dicari,” tegasnya.

Zuly juga mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan asal-usul dan masyarakat tempat mereka berasal. Menurutnya, kesuksesan harus dibarengi dengan kepedulian sosial serta keberanian untuk kembali membantu masyarakat yang masih menghadapi berbagai kesulitan hidup.

“Anda tidak bisa memilih lahir dari keluarga siapa atau berasal dari daerah mana. Namun, ketika sudah berhasil, jangan lupa kembali kepada masyarakat. Sebagus apa pun pencapaian seseorang, pada akhirnya ia tetap berasal dari lingkungan tempat ia dibesarkan,” tutur Zuly.

Karena itu, ia berharap generasi muda mampu menjadi creative minority, yakni kelompok kecil yang berani berpikir kreatif, menghadirkan karya nyata, dan tetap berpihak kepada masyarakat di tengah tantangan besar era disrupsi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan sosial yang nyata. (NF)