lldikti5@kemdiktisaintek.go.id +628112982558 FAQ ID EN

Kolegium Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia Visitasi PPDS Ortopedi UMY, Soroti Standar dan Patient Safety

Percepatan pemenuhan dokter spesialis di Indonesia perlu berjalan beriringan dengan penguatan mutu pendidikan dan keselamatan pasien. Hal tersebut menjadi perhatian Kolegium Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia saat melakukan visitasi ke Program Studi Ortopedi dan Traumatologi Program Spesialis Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY), Kamis (10/9) di RS PKU Gamping.

Ketua Kolegium Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia, Dr. dr. Yudha Mathan Sakti, Sp.OT, Subsp. OTB(K), mengatakan pembukaan program studi baru menjadi bagian penting untuk menjawab kebutuhan dokter spesialis yang pertumbuhannya belum sebanding dengan jumlah penduduk. Namun, percepatan tersebut harus diikuti kesiapan institusi dalam mempertahankan standar pendidikan.

Menurutnya, kebutuhan dokter spesialis saat ini mendorong pembukaan sejumlah program pendidikan secara lebih cepat. Kondisi tersebut membuat pengawalan mutu menjadi semakin penting agar akselerasi tidak berujung pada penurunan kualitas lulusan.

“Saat ini ada tambahan enam atau tujuh universitas yang sedang mengajukan pendirian PPDS dan masuk secara bersamaan. Biasanya kami memproduksi satu prodi dalam satu tahun karena pendampingannya membutuhkan evaluasi. Mudah-mudahan akselerasi ini tidak menurunkan mutu, tetapi justru menjadi semangat bahwa kita diberikan amanah ini karena memang memiliki kemampuan,” ungkap dr. Yudha.

Ia menegaskan visitasi dilakukan untuk memastikan program pendidikan berjalan sesuai standar profesi. Evaluasi tersebut tidak hanya menyangkut kelengkapan penyelenggaraan pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan kompetensi lulusan dan keamanan pelayanan kepada pasien.

“Kami punya komitmen menjaga amanah ini dengan baik. Yang kami khawatirkan adalah program studi tidak berjalan sesuai standar, karena dampaknya bukan hanya pada pendidikan tetapi juga patient safety dan nama baik ortopedi secara umum. Karena itu, kami akan mengonfirmasi hal-hal sesuai standar dan memberikan masukan apabila ada bagian yang perlu disesuaikan,” lanjutnya.

Ia berharap PPDS Ortopedi dan Traumatologi UMY dapat berkembang secara berkelanjutan, terlebih Muhammadiyah memiliki jaringan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang luas. Keberadaan program ini dinilai berpotensi menjadi salah satu pijakan pengembangan pendidikan spesialis ortopedi di lingkungan Muhammadiyah.

Sementara itu, Ketua Program Studi PPDS Ortopedi dan Traumatologi FKIK UMY, dr. Muhammad Ariffudin, Sp.OT, mengatakan visitasi menjadi kesempatan bagi UMY memperoleh arahan untuk menyempurnakan standar program. Ia menjelaskan, pendirian program sebelumnya berlangsung dalam skema percepatan sehingga rekomendasi kolegium belum menjadi persyaratan.

Kini, UMY melakukan penyesuaian terhadap perangkat akademik, termasuk kurikulum, sumber daya manusia, sarana pendidikan, dan sistem penjaminan mutu. Program pendidikan dirancang selama sembilan semester dengan beban 144 SKS dan pembelajaran di rumah sakit pendidikan utama, rumah sakit jejaring, serta rumah sakit satelit.

“Kami meminta bimbingan dan masukan supaya standar minimal dan nantinya standar lulusan tidak substandar. Harapannya, melalui visitasi ini kami mendapatkan arahan agar seluruh proses pendidikan benar-benar sesuai dengan standar yang ditetapkan,” harap dr. Arif.

dr. Arif menambahkan, UMY mengembangkan kekhasan pada bidang trauma muskuloskeletal dan kebencanaan. Arah tersebut didukung jejaring rumah sakit Muhammadiyah, pengalaman dosen dalam respons bencana, serta keberadaan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Dengan penguatan tersebut, visitasi diharapkan tidak sekadar menjadi tahapan evaluasi, tetapi memastikan percepatan pemenuhan dokter spesialis tetap menghasilkan lulusan yang kompeten sekaligus mampu memberikan pelayanan yang aman dan berkualitas. (NF)