lldikti5@kemdiktisaintek.go.id +628112982558 FAQ ID EN

Konflik Iran–AS Jadi Momentum Indonesia Diversifikasi Ekspor

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kinerja ekspor Indonesia, tetapi juga menuntut langkah strategis untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono, S.E., M.R.D.M., Ph.D., menyebutkan bahwa ketidakpastian global akibat konflik Iran–Amerika Serikat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat diversifikasi pasar dan mempercepat transformasi industri agar tidak terlalu bergantung pada komoditas.

“Konflik Iran menegaskan tingginya risiko geographical concentration of trade, terutama karena sebagian besar perdagangan minyak dunia melewati kawasan yang rentan konflik. Setiap gangguan di wilayah tersebut berdampak sistemik terhadap biaya energi dan logistik global. Dampaknya mulai terlihat dari meningkatnya biaya pengiriman dan perlambatan aktivitas manufaktur global,” jelasnya kepada Humas UMY, Jumat (10/4).

Ia menekankan bahwa ekspansi ke pasar nontradisional perlu menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada pasar utama yang sensitif terhadap gejolak global. Diversifikasi tidak hanya memperluas peluang, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme mitigasi risiko.

“Diversifikasi pasar bukan lagi pilihan, melainkan keharusan struktural. Dengan memperluas pasar ekspor, Indonesia dapat meningkatkan export resilience di tengah ketidakpastian global. Strategi ini memungkinkan risiko dari gangguan geopolitik tersebar sehingga tidak langsung menekan kinerja ekspor secara keseluruhan,” ujar Susilo.

Selain diversifikasi pasar, respons pemerintah perlu dilakukan melalui pendekatan kebijakan yang terintegrasi. Penanganan dampak konflik global juga perlu dirancang dalam beberapa horizon waktu agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

“Dalam jangka pendek, pemerintah perlu melakukan stabilisasi melalui subsidi energi dan pengendalian harga domestik untuk meredam tekanan inflasi. Pada jangka menengah, diperlukan penyesuaian struktural seperti diversifikasi sumber energi dan penguatan sistem logistik. Sementara itu, dalam jangka panjang, transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri dan integrasi dalam perjanjian perdagangan global menjadi kunci untuk memperkuat daya saing,” tandasnya.

Peran pelaku usaha dalam menghadapi ketidakpastian global juga menjadi faktor penting. Perusahaan perlu meningkatkan fleksibilitas operasional dan memperkuat manajemen risiko agar tetap kompetitif.

Lebih lanjut, Susilo menegaskan bahwa konflik geopolitik seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis nilai tambah. Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan keuntungan jangka pendek dari fluktuasi harga komoditas.

“Konflik Iran–AS mencerminkan bagaimana shock geopolitik dapat mengubah keseimbangan perdagangan global. Dalam jangka pendek, Indonesia mungkin memperoleh keuntungan dari sektor komoditas, tetapi tantangan jangka panjangnya adalah menghindari ketergantungan pada sumber daya alam. Diversifikasi pasar dan transformasi industri berbasis nilai tambah harus dipercepat agar ketahanan ekonomi nasional semakin kuat,” tegas Susilo. (NF)