Fenomena memprihatinkan melanda dunia perbukuan global. Perusahaan-perusahaan Artificial Intelligence (AI) raksasa asal Silicon Valley dilaporkan tengah memborong jutaan buku langka dari berbagai penjuru dunia. Isinya dikuras melalui pemindaian berkecepatan tinggi, lalu salinan fisik aslinya dihancurkan. Praktik ini memicu kontroversi global dan mendapat sorotan tajam dari akademisi serta praktisi perpustakaan.
Dilansir dari Detik.com, siasat ini mulai terendus ketika para pemilik toko buku langka mengungkapkan kecurigaan atas lonjakan permintaan yang tidak wajar. Salah satunya diungkapkan oleh Pieter de Vries, pemilik toko buku kuno di Haarlem, Belanda, yang mengoleksi peta dan cetakan dari abad ke-16 dan 17. Pada pertengahan Juni lalu, ia secara mengejutkan dihubungi oleh perwakilan dari perusahaan bernama 2077 AI yang berniat membeli 3.000 judul buku sekaligus.
Para pedagang buku bekas menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh kondisi data wall, yakni situasi di mana perusahaan AI telah kehabisan data digital di internet untuk melatih model mereka. Untuk meningkatkan daya pemrosesan dan efisiensi mesin AI, raksasa teknologi memerlukan 'karya murni buatan manusia' yang belum pernah terpublikasi secara digital. Fenomena ini makin gencar setelah perusahaan AI Anthropic merekrut mantan eksekutif Google Books, Tom Turvey, untuk memuluskan misi mengumpulkan seluruh buku di dunia.
Dalam aksinya, perusahaan AI memanfaatkan layanan seperti ISBNdb yang memungkinkan pemesanan hingga satu juta buku sekaligus. Setelah buku-buku cetak langka tersebut didapatkan, jilid aslinya dipotong secara paksa agar dapat dimasukkan ke dalam mesin pemindai berkecepatan tinggi dengan teknologi Optical Character Recognition (OCR). Setelah data teksnya tersedot, salinan fisik buku tersebut dihancurkan guna memangkas waktu pemindaian dan menghindari kerumitan hukum terkait hak cipta.
Menanggapi praktik pemusnahan massal tersebut, Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Dr. Joko Santoso, M.Hum., menegaskan bahwa fenomena ini merupakan sinyal bahaya serius bagi keberlangsungan ilmu pengetahuan.
"Ketika buku sudah didigitalisasi lalu kemudian dimusnahkan, perpustakaan memandang hal itu sebagai alarm. Bagaimanapun juga, buku dalam format cetak tetap menjadi dasar untuk melakukan pengecekan kembali terhadap sumber aslinya. Jika seluruh informasi hanya mengandalkan hasil digitalisasi, siapa yang menjamin tidak ada perubahan pada isinya? Karena itu, tugas perpustakaan adalah memastikan sumber asli tetap dapat ditelusuri sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik dan menjaga kebenaran informasi," ujar Joko di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Student Dormitory, Selasa (4/8/2026).
Joko menambahkan, buku-buku cetak, khususnya edisi pertama dan karya monumental, merupakan representasi autentik dari gagasan sang penulis. Keberadaan naskah fisik asli harus tetap dipertahankan guna menjaga akuntabilitas data.
Selain ancaman terhadap keaslian informasi, FPDI juga menggarisbawahi bahaya penguasaan tunggal data pengetahuan oleh perusahaan AI komersial. Jika seluruh naskah fisik dimusnahkan dan data digitalnya hanya dimiliki oleh korporasi teknologi, masyarakat terancam kehilangan akses gratis terhadap ilmu pengetahuan.
"Kalau seluruh representasi pengetahuan itu beralih ke format digital dan dikuasai perusahaan AI, apalagi kemudian dikapitalisasi, masyarakat bisa bergantung pada layanan berbayar. Padahal perpustakaan adalah layanan publik yang menjamin setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh informasi dan pengetahuan secara gratis. Jangan sampai akses terhadap pengetahuan menjadi tidak lagi bebas hanya karena sumber-sumbernya dikuasai oleh pihak tertentu," tegasnya.
Meski mengecam keras tindakan destruktif perusahaan AI, FPDI menegaskan bahwa digitalisasi tetap merupakan strategi penting dalam pelestarian naskah kuno Indonesia. Namun, tujuannya adalah untuk pelestarian (preservation) dan memperluas akses publik (accessibility), bukan untuk memusnahkan fisik aslinya. FPDI mendorong agar kandungan isi naskah kuno dapat terus dihidupkan melalui adaptasi media modern seperti multimedia, komik, dan animasi agar relevan dengan generasi muda, tanpa harus melenyapkan jejak sejarah fisiknya. (NF)