Pendirian Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bukan merupakan inisiatif sesaat, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang kampus Muda Mendunia dalam memperkuat posisi studi Islam di tengah dinamika keilmuan yang terus berkembang. Langkah strategis ini menegaskan kesungguhan UMY untuk mengembangkan bidang keislaman secara lebih terstruktur, progresif, serta terhubung dengan disiplin ilmu lain.
Sebagai salah satu fakultas tertua, Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) UMY dipandang memiliki peran sentral dalam memastikan studi Islam tetap relevan dengan kebutuhan zaman dan tuntutan akademik global. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Prof. Faris Al-Fadhat, S.IP., M.A., Ph.D., dalam acara Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Magister PAI UMY pada Sabtu (6/12) di Gedung Dasron Hamid RIC UMY.
“Magister PAI merupakan bagian dari roadmap besar UMY dalam memperkuat pusat studi Islam dan memperluas kolaborasi riset lintas disiplin. Integrasi ilmu adalah arah strategis yang sedang digarap secara serius oleh universitas melalui pengembangan program studi maupun riset,” jelasnya.
Prof. Faris menambahkan bahwa kesiapan sumber daya manusia menjadi modal signifikan FSIP dalam mengembangkan prodi baru. Mayoritas dosen telah berkualifikasi doktor dan berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri seperti Malaysia, Timur Tengah, Eropa, dan Taiwan.
“Keberagaman ini membuat fakultas terus berkembang. SDM kita memiliki basis keilmuan yang kuat, variatif, dan siap mendorong pengembangan studi Islam dengan pendekatan yang lebih luas. Namun demikian, kami tetap terbuka terhadap masukan dari asesor untuk penyempurnaan rancangan prodi,” imbuhnya.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Syamsun Ni’am, M.Ag., asesor dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, menekankan pentingnya ketepatan instrumen serta pemenuhan aspek dosen sebagai poin krusial dalam pendirian prodi keagamaan seperti Magister PAI. Ia mengingatkan bahwa proses validasi nantinya berada di bawah Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) yang dikenal memiliki standar ketat.
Meskipun demikian, Prof. Syamsun menyampaikan optimisme bahwa Prodi Magister PAI UMY memiliki potensi besar untuk direkomendasikan, selama catatan teknis dapat segera dimitigasi.
“Visitasi ini merupakan proses pendampingan untuk memastikan bahwa ketika prodi maju ke tahap validasi LAMDIK, tidak ada hambatan administratif maupun akademik. Karena itu, asesmen ini sangat penting sebagai pijakan awal UMY dalam memantapkan pengembangan studi Islam yang relevan dengan kebutuhan era modern. Dengan demikian, UMY dapat menghasilkan lulusan yang berkompeten, berwawasan integratif, dan mampu menjawab tantangan keilmuan kontemporer,” jelasnya.
Asesmen lapangan ini juga turut dihadiri secara daring oleh Dr. A. Rofiq Zainal Mun’im, M.Phil., selaku Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, serta Prof. Dr. Arifuddin Ahmad, M.Ag., asesor dari UIN Alauddin Makassar. (NF)