Yogyakarta – LLDIKTI Wilayah V menyelenggarakan Rapat Koordinasi Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta Bidang Kemahasiswaan Tahun 2026 pada Kamis (19/02/2026) di Kantor LLDIKTI Wilayah V, Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri sekitar 100 pimpinan PTS bidang kemahasiswaan yang tergabung dalam Forum Pimpinan Kemahasiswaan (Forpimawa) DIY.
Hadir sebagai narasumber, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek, Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., serta Ketua Forpimawa DIY, Dr. Gato Sugiharto, S.H., M.H.. Rakor ini menjadi momentum strategis untuk menyelaraskan arah kebijakan kemahasiswaan nasional dengan kebutuhan dan tantangan riil PTS di DIY.
Leapfrogging dan Target 51,15% Prodi Unggul 2028
Dalam sambutannya, Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, menegaskan kembali komitmen Leapfrogging sebagai proyek transformasi mutu PTS DIY sejak 2024. Dari 100 PTS di DIY, pada awal program hanya 7 perguruan tinggi yang terakreditasi unggul; kini meningkat menjadi 10.
Lebih jauh, komitmen bersama menargetkan pada 2028 sebanyak 51,15% program studi terakreditasi unggul, naik signifikan dari capaian 26,5% pada 2024. Capaian ini, menurut beliau, tidak dapat dilepaskan dari penguatan prestasi mahasiswa sebagai bagian integral dari peningkatan reputasi institusi.
“Prestasi mahasiswa harus kita endorse bersama. Event-event mandiri, kolaborasi antarkampus, hingga penguatan mental health center perlu menjadi bagian dari ekosistem pembinaan kemahasiswaan,” tegasnya .
Mahasiswa sebagai Aktor Strategis Pembangunan
Dalam paparannya, Direktur Belmawa Kemdiktisaintek menekankan bahwa mahasiswa merupakan aktor strategis pembangunan nasional. Ia mengingatkan bahwa rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia masih sekitar 8 tahun, sehingga perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan SDM unggul berdaya saing global.
Beliau juga menegaskan bahwa keberadaan mahasiswa adalah esensi perguruan tinggi. “Sebesar apa pun kampus, tanpa mahasiswa ia bukan perguruan tinggi,” ujarnya .
Kebijakan kemahasiswaan ke depan diarahkan pada penguatan:
Isu Mental Health dan Tantangan PTS 3T
Sesi diskusi mengemuka secara hangat dan reflektif. Salah satu pimpinan PTS dari wilayah Gunungkidul mengangkat isu darurat kesehatan mental mahasiswa, termasuk potensi bunuh diri dan tekanan sosial budaya seperti pernikahan dini bagi mahasiswa perempuan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Belmawa menekankan pentingnya langkah preventif melalui profiling mahasiswa sejak awal masuk, penguatan unit konseling, serta pendekatan berbasis keluarga dan psikologis yang berkelanjutan .
Isu ini menjadi pengingat bahwa tata kelola kemahasiswaan tidak hanya soal kompetisi dan prestasi, tetapi juga menyangkut kesejahteraan dan kesehatan mental mahasiswa.
Desentralisasi Kompetisi dan Penguatan Forpimawa
Dalam forum ini juga dibahas rencana desentralisasi pengelolaan sejumlah kompetisi nasional melalui konsorsium atau forum perguruan tinggi, sehingga kapasitas dan partisipasi dapat diperluas. Forpimawa DIY didorong menjadi motor penggerak inovasi program kemahasiswaan berbasis kolaborasi.
Ketua Forpimawa DIY turut menyampaikan laporan dan program kerja, termasuk penguatan karakter mahasiswa melalui kegiatan bela negara serta pengembangan forum diskusi dan kajian tematik lintas kampus.
Komitmen Bersama
Rakor ditutup dengan komitmen bersama untuk:
LLDIKTI Wilayah V optimistis bahwa melalui sinergi antara Kemdiktisaintek, LLDIKTI, dan Forpimawa DIY, transformasi mutu PTS dapat dipercepat sekaligus menjaga Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang unggul dan berdaya saing global.