Meningkatnya volume sampah plastik rumah tangga di kawasan Kadisoro, Bantul, menjadi persoalan yang kian dirasakan masyarakat. Selain mengganggu kebersihan lingkungan, penumpukan limbah plastik juga berpotensi menurunkan citra kawasan wisata apabila tidak dikelola secara sistematis.
Merespons kondisi tersebut, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ratih Herningtyas, S.IP., MA menggagas program pendampingan pemanfaatan sampah plastik menjadi produk souvenir tematik di Desa Wisata Dewi Kajii, pada Sabtu (28/2).
Program yang akan berjalan hingga akhir tahun 2026 ini mendorong masyarakat tidak lagi memandang sampah sebagai residu tak bernilai, melainkan sebagai bahan baku industri kreatif desa. Sampah plastik yang sebelumnya terbuang kini dipilah, dibersihkan, dan diolah menjadi produk cendera mata khas yang merepresentasikan identitas lokal Dewi Kajii.
Ratih menegaskan, persoalan lingkungan perlu diselesaikan melalui pendekatan yang terintegrasi dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Baca juga: UMY Kembangkan Platform Dewikajii.id, Perkuat Digitalisasi Desa Wisata Ikan Hias di Bantul
“Pengelolaan sampah tidak cukup berhenti pada aspek kebersihan. Ia harus terhubung dengan strategi peningkatan pendapatan dan kesadaran ekologis warga,” ujarnya saat dihubungi pada Selasa (3/3).
Dalam pelaksanaannya, warga memperoleh pelatihan teknis pengolahan plastik daur ulang sekaligus pendampingan desain produk, pengemasan, dan penyusunan identitas merek. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuat positioning Dewi Kajii sebagai desa wisata berbasis edukasi lingkungan.
Pendampingan akan terus dilakukan hingga Mei 2026 untuk memastikan proses produksi berjalan konsisten, kualitas produk terstandar, serta strategi pemasaran dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat.
Melalui inisiatif ini, persoalan sampah plastik diharapkan tidak hanya teratasi secara bertahap, tetapi juga bertransformasi menjadi peluang ekonomi baru yang memperkuat keberlanjutan Desa Wisata Dewi Kajii.