Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan kegiatan pelatihan dan kunjungan lapangan bersama Komunitas Peduli Lingkungan Ayu Jiwa di Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu (1/8/2026). Kegiatan yang diikuti lebih dari 20 anggota komunitas ini merupakan bagian dari program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang berfokus pada pengembangan Model Pemberdayaan Ekonomi dan Lingkungan Berbasis Circular Economy.
Program ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia. Dukungan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendorong perguruan tinggi untuk berkontribusi nyata terhadap pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi dan keberlanjutan lingkungan.
Komunitas Peduli Lingkungan Ayu Jiwa selama ini telah menjalankan berbagai aktivitas pengelolaan sampah organik secara mandiri, mulai dari pengomposan dan fermentasi sampah rumah tangga hingga produksi kompos padat, pupuk organik cair (POC), serta produk berbasis eco-enzyme seperti sabun dan cairan pembersih ramah lingkungan. Komunitas ini juga mengembangkan sistem biokonversi sampah organik menggunakan maggot (Black Soldier Fly) yang terintegrasi dengan peternakan ayam semi-umbar dan budidaya ikan lele. Meski demikian, potensi besar tersebut belum berkembang secara optimal, terutama dari sisi sarana produksi, manajemen usaha, dan pemasaran produk.
Kegiatan berlangsung di Kebun Bu Utiq, sebuah kebun percontohan pertanian terintegrasi di Bangunjiwo, dengan Sri Hastuti sebagai pembicara utama. Para anggota komunitas memperoleh pembelajaran langsung (experiential learning) mengenai pengelolaan ayam semi-umbar, teknik berkebun organik, serta sistem pertanian terintegrasi (integrated farming) yang menghubungkan pengelolaan sampah organik, biokonversi maggot, peternakan, dan kebun komunal dalam satu ekosistem produksi yang berkelanjutan.
Dalam paparannya, Sri Hastuti menekankan bahwa kunci dari sistem ini terletak pada rantai pemanfaatan yang tidak menyisakan limbah.
"Prinsipnya sederhana: tidak ada yang terbuang. Limbah dapur rumah tangga kami jadikan pakan maggot, maggotnya kami pakai untuk pakan ayam dan lele. Kotoran ayamnya diolah menjadi pupuk, dan air kolam lele kami gunakan untuk menyiram tanaman. Semuanya kembali ke kebun dalam satu siklus," jelasnya di hadapan peserta.
Pemilik Kebun Bu Utiq, Tri, menuturkan bahwa kebun yang dirintisnya sejak 2022 tersebut dibangun secara bertahap. "Kami memulai dari skala kecil pada 2022. Yang ingin kami tunjukkan hari ini adalah bahwa sistem seperti ini tidak harus langsung besar yang penting siklusnya berjalan lebih dulu, baru kapasitasnya ditambah sedikit demi sedikit," ujarnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY sekaligus Ketua Tim Pengabdian, Susilo Nur Aji Cokro Darsono, Ph.D., menjelaskan bahwa pendekatan circular economy menjadi inti dari seluruh program pemberdayaan ini. "Kami ingin membantu Komunitas Ayu Jiwa tidak sekadar mengelola sampah, tetapi mengubah limbah menjadi sumber daya yang menggerakkan ekonomi komunitas secara berkelanjutan dari kompos, maggot, hingga produk pertanian dan peternakan yang terintegrasi," ujarnya.
Kegiatan ini melibatkan tim lintas disiplin, salah satunya dosen program studi Teknik Mesin UMY yaitu Sunardi, S.T., M.Eng., Ph.D. dan Dosen program studi Akuntasni Dr. Hafiez Sofyani, serta mahasiswa S1 Ilmu Ekonomi dan Magister Ekonomi FEB UMY yang turut memberikan pendampingan langsung di lapangan.
Ketua Komunitas Peduli Lingkungan Ayu Jiwa, Yunita Esriana, menyambut antusias kegiatan ini. "Hari ini kami mempelajari berbagai hal terkait pengelolaan ayam semi-umbar, pengelolaan kebun, serta sistem peternakan yang sudah terintegrasi melalui konsep integrated farming. Alhamdulillah, kami memperoleh banyak ilmu yang luar biasa, mulai dari proses pembuatan pupuk, pembuatan media tanam, hingga teknik pemeliharaan tanaman. Pengetahuan yang kami dapatkan menjadi bekal penting untuk mengembangkan kebun komunitas Ayu Jiwa agar lebih produktif dan berkelanjutan," ujarnya.
Sebagai wujud komitmen jangka panjang, Tim Pengabdian juga menyerahkan sejumlah hibah peralatan teknologi tepat guna kepada komunitas, di antaranya alat pencacah sampah organik dan berbagai peralatan penopang produksi lainnya. Seluruh peralatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas produksi komunitas dari hulu ke hilir, sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing produk-produk Komunitas Ayu Jiwa di pasar.
Program PKM ini dirancang selama delapan bulan dan mencakup tiga aspek utama: penguatan kapasitas produksi melalui optimalisasi biokonversi sampah organik, penguatan pemasaran melalui pengembangan branding dan pemasaran digital, serta peningkatan tata kelola usaha komunitas. Melalui program ini, Tim Pengabdian menargetkan peningkatan kapasitas produksi dan omzet penjualan produk komunitas sebesar 20–30%. Ke depan, Tim Pengabdian UMY akan terus mendampingi komunitas melalui serangkaian pelatihan dan evaluasi berkala hingga program selesai pada akhir tahun 2026. (jeed)