lldikti5@kemdiktisaintek.go.id +628112982558 FAQ ID EN

UMY dan Chulalongkorn University Kolaborasi Lestarikan Budaya Lewat Ecoprint, Batik, dan Shibori

Dari batik hingga shibori, dari ecoprint hingga jumputan, seni tekstil tradisional bukan hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga menjadi sarana kreatif untuk melestarikan budaya, memperkuat modal sosial, sekaligus menjawab tantangan lingkungan. Semangat inilah yang dihidupkan dalam rangkaian program pengabdian masyarakat internasional hasil kolaborasi Progam Studi Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FEB UMY) dengan Department of Economics, Chulalongkorn University, Thailand.

Dalam kegiatan sehari penuh di ruang 216 Faculty of Economics Chulalongkorn University, sebanyak 20 peserta dari Thailand, Malaysia, Indonesia, Afrika, dan Tiongkok, yang terdiri dari dosen, mahasiswa, hingga masyarakat umum, ikut serta mencoba langsung berbagai teknik pewarnaan kain tradisional.

Tiga tema besar diangkat dalam kegiatan ini, yakni: Pursuing A Sustainable Economy through Ecoprint Product using Pounding Technique, Preserving Culture and Social Capital of International Students through Batik, serta Preserving Culture, Promoting Sustainability: Shibori Dyeing for Clothing Reuse and Waste Reduction.

Pada sesi ecoprint, peserta diperkenalkan teknik pewarnaan ramah lingkungan menggunakan daun, bunga, dan tumbuhan dengan metode pukul (pounding technique). Sesi ini dipandu oleh Dr. Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D., bersama Prof. Dr. Endah Saptutyningsih, S.E., M.Si., serta Dr. Diah Setyawati Dewanti, S.E., M.Sc., Ph.D.

“Ecoprint adalah cara sederhana namun berdampak besar. Dengan memanfaatkan kekayaan alam sekitar, kita bisa menghasilkan karya bernilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Dr. Titis, Sabtu (23/8).

Pada sesi batik, Dr. Diah Setyawati Dewanti mengajak peserta memahami filosofi batik sekaligus praktik membatik langsung. Menurutnya, batik bukan sekadar karya seni, melainkan jembatan budaya lintas bangsa.
“Dengan mengenalkannya kepada mahasiswa internasional, kita tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membangun jejaring sosial yang berkelanjutan,” tuturnya.

Sementara itu, sesi shibori atau jumputan dipandu oleh Prof. Endah Saptutyningsih yang menekankan relevansi seni tekstil dengan isu lingkungan.
“Melalui shibori, kita tidak hanya melestarikan seni budaya, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan. Dari pakaian bekas, kita bisa menciptakan karya baru bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan,” jelas Prof. Endah.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Peserta belajar, berdiskusi, hingga tertawa saat mencoba menggunakan canting atau mengikat kain untuk shibori. Pihak Department of Economics, Chulalongkorn University, menyambut baik kegiatan ini karena tidak hanya memberi pengalaman kultural, tetapi juga memperluas kerja sama akademik lintas negara. (Mut)

umy.ac.id