lldikti5@kemdiktisaintek.go.id +628112982558 FAQ ID EN

UMY Pisahkan Jalur Karir Dosen, Peneliti Tak Lagi Dibebani Mengajar

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) resmi menerapkan kebijakan pemisahan jalur karir dosen berdasarkan talenta dan fokus kerja. Mulai periode ini, dosen UMY tidak lagi diwajibkan menjalankan semua fungsi sekaligus. Melainkan akan diarahkan ke salah satu dari tiga jalur: peneliti, pengajar, atau pengabdian masyarakat.

Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., dalam forum Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri para Dekan, Ketua Program Studi, dan Ketua Pusat Studi di seluruh lingkungan UMY.

Nurmandi menyebut kebijakan ini lahir dari keprihatinan atas beban kerja dosen yang dinilai tidak realistis. Selama ini, dosen yang memiliki talenta riset tetap diwajibkan mengampu beban mengajar hingga 40 SKS per tahun, sembari dituntut menghasilkan tiga hingga empat publikasi ilmiah dalam periode yang sama.

“Kalau harus publikasi 3-4 per tahun dan tetap diharuskan mengajar sampai 40 SKS, ya bisa dipastikan akan kesulitan. Ini tidak mungkin,” ujar Nurmandi di hadapan para dosen peserta FGD.

Melalui skema baru ini, dosen yang masuk jalur peneliti akan dibebaskan dari kewajiban mengajar penuh dan difokuskan untuk menghasilkan karya ilmiah. Mereka akan berkegiatan di Gedung Research and Innovation Center UMY yang telah dibangun sebagai pusat ekosistem penelitian universitas.

Sementara itu, dosen yang menjabat posisi struktural seperti dekan atau rektor juga tidak lagi dibebani target publikasi riset yang sama dengan dosen peneliti. Nurmandi menilai pembebanan ganda selama ini justru tidak menghasilkan output yang optimal di kedua sisi.

Kebijakan ini sekaligus menjadi bagian dari strategi besar UMY untuk mendongkrak posisi dalam pemeringkatan perguruan tinggi nasional dan internasional, di mana output riset dan publikasi terindeks merupakan salah satu variabel penentu utama.

Dengan memfokuskan dosen peneliti pada satu jalur, UMY menargetkan peningkatan kuantitas sekaligus kualitas publikasi ilmiah yang dihasilkan civitas academica-nya.
Nurmandi menegaskan bahwa kebijakan ini bukan untuk membatasi, melainkan untuk membebaskan dosen agar berkembang sesuai dengan kekuatan terbaiknya.

“Dosen yang memang talentanya riset, sebaiknya memang difokuskan untuk riset saja. Riset itu dunia yang selalu menjanjikan, dan bagi saya pribadi, menyenangkan,” pungkasnya. (ID)

Komentar & Diskusi

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tinggalkan Komentar