Pembaca yang kreatif, saat ini banyak sekali mahasiswa lama maupun mahasiswa baru meminta surat rekomendasi untuk Kembali atau datang ke Yogyakarta. Rekomendasi itu dibutuhkan untuk proses kelengkapan standar aturan di bandara. Tentu perguruan tinggi di Yogyakarta mengharapkan kehadiran dari pelajar-pelajar di seluruh wilayah di Indonesia untuk kuliah di Yogyakarta.
Saya ingat sekali sejak sepuluh tahun lalu saya sering mengikuti program 'Ayo kuliah di Jogja' yang prakarsai oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY di berbagai provinsi di Indonesia. Walaupun sekitar empat tahun belakangan program itu sudah tidak ada lagi, Disdikpora DIY Memfasilitasi kampus-kampus di DIY untuk Bersama membuka ekspo di daerah yang memang tinggi minat kuliah di Yogyakarta.
Masing-masing kampus pada saat itu bisa mempresentasikan keunggulan kampusnya bahkan bisa melaksanakan tes masuk langsung di sekolah yang dituju. Bagi yang tidak ikut hadir ke provinsi yang dituju boleh menitipkan brosurnya.
Memang tidak bisa dipungkiri yang sering ber temu di acara itu rata-rata memang itu-itu saja. Kata orang Jakarta, loe lagi loe lagi. Karena seringnya bertemu di acara serupa setiap tahunnya. Beberapa pimpinan perguruan tinggi tersebut bersepakat membentuk forum silaturahmi yang diberi nama Jogja Edu.
Jogja Edu adalah forum saling berbagi informasi khususnya PMB dan kerja sama dengan sekolah. Forum bersepakat menunjuk Ketua STIPRAM Yogyakarta, Dr. Suhendroyono, menjadi ketuanya. Semangat Jogja Edu adalah kebersamaan. PT selalu bersama dan berbarengan dalam membuka stan atau ekspo Pendidikan di suatu daerah. Terkadang stan hanya dipanjangkan tanpa adanya pembatas. Begitu semangatnya mengenalkan Yogyakarta dan memotivasi siswa agar kuliah ke Yogya.
Pembaca yang kreatif, kondisi Covid-19 saat ini membuat banyak PTS di DIY harus lebih kreatif dalam mengenalkan prodi-prodinya. Beberapa waktu lalu sahabat-sahabat saya di beberapa kampus saling bertanya dan bagaimana animo mahasiswa kuliah ke kampus masing-masing. Ada yang sampai saat ini masih sedikit yang melakukan registrasi. Kondisi saat ini ternyata begitu beratnya bagi sahabat-sahabat saya tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan banyaknya melakukan event di media sosial.
Saat ini banyak sekali kita saksikan webinar dengan Zoom, sharing dengan Live IG dan seminar Live Youtube. Semua cara yang dilakukan untuk memberikan manfaat buat banyak orang khususnya para pelajar yang sedang mencari atau memilih perguruan tinggi. Salah satu Sekprodi di AMIKOM menyampaikan kepada saya, betapa adiknya Bersama teman-temannya alumni salah satu SMA Negeri di DIY yang sudah diterima SNMPTN sering mencari webinar gratis. Tujuannya mengisi waktu luang dikarenakan kuliah aktif baru masuk pada September 2020.
Adiknya juga menyampaikan betapa teman-temannya yang belum dapat pilihan masih bingung dan terus mencari informasi dalam memilih perguruan tinggi. Saya melihat bahwa ini baru informasi dari satu sekolah. Bisa dibayangkan sekolahsekolah di DIY bahkan di Indonesia berpikir hal yang sama. Jelas ini adalah peluang untuk masing-masing perguruan tinggi mengenalkan program studinya, serta menjadi bukti nyata untuk calon mahasiswa bahwa kampus tersebut sangat siap dalam perkuliahan daring.
Pembaca yang kreatif, di masa New Normal mungkin kondisi tatap muka langsung (luring) tidak sesempurna biasanya. Tentu orang akan mengikuti protocol kesehatan yang melekat. Semakin seringnya kita aktif, mengunggah, berbagi banyak kegiatan di medsos, semakin sering orang melihat, membaca, bahkan berbagi info. Bulan ini dan bulan depan, bukan lagi saatnya untuk menyalahkan siapa-siapa. Bukan saatnya menyalahkan prodi yang aktif berkegiatan dan menyalahkan keadaan. Saat ini adalah saat melangkah, berlari, saling mendukung, saling memotivasi, dan saling berkolaborasi dengan energi Ayo kuliah di Jogja.
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 12 Juni 2020 di Rubrik Inspira halaman 10