Bagaimana Kita dan Orang Lain

Oleh: Erik Hadi Saputra
Tim LKMM LLDikti Wilayah V Yogyakarta
Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta
Direktur Kehumasan dan Urusan Internasional Universitas AMIKOM Yogyakarta


Ibu yang bahagia akan melahirkan keluarga yang bahagia. Itulah kalimat yang diberikan sahabat saya Santy Dwi Kristina ketika memberikan bukunya yang berjudul “Kenapa Bunda Harus Bekerja” kepada saya beberapa waktu lalu ketika mengisi bareng acara pembekalan untuk Badan Narkotika Nasional DIY. Pembaca yang kreatif, benarkah perasaan menentukan tindak-tanduk kita? Perasaan bahagia melahirkan kebahagiaan dan perasaan galau melahirkan kesusahan.

Saya berikan sebuah contoh. Dua orang ibu sama-sama terlihat di suatu sekolah ketika menjemput pulang anaknya. Ibu yang pertama berseragam pegawai dan Ibu yang lain memakai gamis. Karena saling kenal dan sering bertemu, kedua ibu ini sering bercerita tentang keadaan mereka. Ibu berseragam menceritakan kesusahannya mengatur waktu menjemput anak di tengah pekerjaan yang masih berjalan. Apalagi jika mendapatkan informasi jam pulang sekolah anak lebih cepat dari jadwal karena suatu hal. Si ibu merasa tidak maksimal dalam mendampingi pengasuhan anak-anaknya. Ibu berseragam menyampaikan rasa kagumnya kepada ibu bergamis karena punya keluangan waktu sehingga lebih dekat dengan anak-anak. Bisa makan siang bersama, shalat berjamaah, dan bisa terus mendampingi ketika ada kegiatan ekstra tambahan. Itulah sedikit gambaran perasaan ibu berseragam kepada ibu bergamis. Bagaimana dengan perasaan ibu bergamis yang menjadi Ibu rumah tangga? Si ibu bercerita, bagaimana enaknya aktivitas ibu berseragam karena masih bisa bekerja, meningkatkan kompetensi, dan mengasah potensi diri. Pandai membagi waktu dengan begitu banyak urusan dengan suasana yang terus berganti. Tidak sempat merasa bosan dengan rutinitas yang sama setiap hari, mengurus rumah, dan semua kebutuhannya.

Pembaca yang kreatif, saya melihat kedua ibu ini sebenarnya sama-sama hebat. Dimanapun posisi mereka, apapun keadaannya, mereka masih tetap berpikir bagaimana menjadikan keluarga bahagia. Orang cenderung ingin mencoba atau melakukan hal yang belum dialaminya. Karena belum pernah mengalami maka yang terlihat enaknya. Pandangan bahwa pekarangan tetangga lebih baik dari pekarangan sendiri sepertinya sudah menjadi pembenaran dalam pikiran.

Contoh lain dari kehidupan orang lain yang lebih enak bisa dilihat kisah seorang siswa SD yang minta diantar ke sekolah dengan sepeda motor seperti temannya yang lain. Kenapa? Karena selama ini si anak selalu diantar menggunakan mobil oleh ayahnya. Dia merasa temannya yang naik sepeda motor lebih seru dibandingkan naik mobil. Sampai pernah si ayah melakukan dua kali aktivitas dengan mengantar anaknya naik sepeda motor ke sekolah kemudian kembali lagi ke rumah dilanjut menggu- nakan mobilnya untuk menuju ke kantor atau acara lain. Kondisi anak yang biasa naik sepeda motor tentu berbeda. Pikirannya tentu tertuju pada betapa enaknya jika diantar dengan mobil. Lebih keren (seperti yang saya rasakan dulu sejak kecil, karena ayah saya tidak memiliki mobil). Pembaca yang kreatif, dari kisah di atas kita mendapatkan gambaran rasa bahagia itu ada pada orang yang mengalaminya. Walaupun tidak bisa dipungkiri, lingkungan sekitar begitu mempengaruhi hal itu. Namun, rasa itu bisa dimunculkan lewat keyakinan diri bahwa semua yang ada, semua yang dimiliki saat ini,  adalah anugerah dari Allah SWT Yang Maha Pemurah. Dengan begitu kita takkan pernah lagi bersusah hati tentang bagaimana kita  dan orang lain. yang ada hanyalah bersyukur dengan itu semua.

Sehat dan sukses selalu.

 

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 17 Januari 2020 di Rubrik Inspira halaman 13.


BAGIKAN