Batik dan Yogyakarta

Pembaca yang kreatif, saat ini sudah banyak permintaan dari mitra sekolah dan universitas di Indonesia untuk berkunjung ke Yogyakarta. Pertanyaan tentang apakah bisa menerima kunjungan, setiap harinya muncul via email dan chat di media sosial. Karyawan tidak dapat memberikan jawaban cepat seperti dua tahun lalu yang hanya melihat kalender. Mengecek tanggal yang ditanyakan, waktu kosong, serta aula yang available untuk acara. Namun di saat pertanyaan itu dilontarkan dalam situasi saat ini, jawaban pun tidak langsung bisa diberikan. 

Koordinasi dengan Satgas Covid Internal harus dilakukan. Pertanyaan terkait PCR swab, rapid antigen, dan vaksinasi terus dilontarkan. Semoga ini adalah optimisme akan semakin membaiknya keadaan. Tentunya mitra yang berkunjung dan yang menerima, bersama-sama peduli dengan melakukan protokol kesehatan ketat. Apalagi jika semuanya telah melakukan vaksinasi. Tentu itu akan membuat yang berkunjung dan yang dikunjungi merasa lebih aman dan nyaman. Kepedulian kepada orang lain akan membuat setiap agenda pasti lebih menyenangkan. Ini bukan urusan kita sebagai pribadi saja. Namun bagaimana orang nyaman dengan kehadiran kita.

Pembaca yang kreatif, Salah satu agenda kunjungan ke Yogyakarta adalah membatik. Obrolan dengan teman kepala sekolah yang berkunjung akhir 2019. Siswanya terlihat bahagia menggunakan lilin khusus (lilin batik) di selembar kain yang telah diberi motif. Ada yang terlihat sangat serius, belajar menjadi seniman yang akan menghasilkan karya besar. Selama dua jam, para siswa tersebut mengikuti kegiatan itu penuh antusias, tersenyum, bahkan ada yang sambil bercanda dengan teman-teman nya.

Pembaca yang kreatif, itulah salah satu kerinduan ke Yogyakarta. Batik selalu menjadi pilihan. Tentu di samping kotanya yang penuh kenangan, kampus, industrinya, candi, pantai, pemandangan alam yang menawarkan banyak spot foto, ditambah kuliner dan oleh-olehnya. Banyak sekali teman yang menitipkan pesanannya untuk dibelikan batik. Walaupun orang yang ke Yogyakarta sudah menghitung sendiri dalam pikirannya, berapa banyak batik yang akan dia bawa untuk keluarga dan temannya.

Betapa kecintaan terhadap batik dan motifnya memberikan nilai tersendiri kepada orang yang mengenakannya. Sahabat saya yang juga dosen, Alfie Nur Rahmi, hampir setiap hari mengenakan batik dalam aktivitasnya. Sepertinya itu cocok dengan style santai dan cepat yang biasa dia tunjukkan. Saya melihat batik sesuai dalam berbagai suasana. Ketika mendadak menghadiri acara, presentasi, bahkan dalam acara santai. Mengenang masa lalu ketika menghadiri berbagai acara penganugerahan bahkan sampai acara hari kemerdekaan negara tetangga. Batik menjadi pilihan yang sangat pas. Pola motif batik yang sangat beragam itu bisa menampilkan pesona kegembiraan, kemandirian, pengharapan dan hal baik lainnya bagi pribadi yang mengenakannya.

Pembaca yang kreatif, salah satu kecintaan kita kepada warisan leluhur bangsa Indonesia adalah menggunakan batik sebagai salah satu busana kerja atau kegiatan lain yang anda lakukan. Banyak sekali keluarga bahkan kepanitiaan acara, memberikan apresiasi batik sebagai seragam panitia. Bahkan ada teman yang bercanda, semakin banyak Anda menjadi panita, semakin banyak juga koleksi batik Anda, hehe. Namun apapun itu, apresiasi dalam wujud batik adalah wujud kecintaan kepada karya. Selamat Hari Batik Nasional, bangga dan teruslah terinspirasi.

Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 1 Oktober 2021 Rubrik Inspira halaman 8.


BAGIKAN