Berterimakasihlah

Pembaca yang kreatif, cobalah Anda perhatikan orang yang berjualan di tepi jalan raya. Dagangan mereka dengan pedagang sebelahnya, dan sebelahnya lagi sama. Setiap ada kendaraan yang menepi, mereka berdiri menjajakan dagangannya. Ketika kendaraan itu berhenti di salah satu pedagang, yang lain kembali duduk tanpa kehilangan harapan. Ketika ada yang bertanya tidakkah mereka akan kesusahan karena saling bersaing ketat untuk mendapatkan pembeli, salah seorang pedagang menjawab ”Mengapa kami menjadi susah? Setiap pagi kami buka toko bersama, dan tutup di jam yang sama. Pemasok kami pun juga beberapa ada yang sama. Bahkan setiap saat kami bisa saling bertukar dagangan bila ada yang membutuhkan. Kami dikenal karena beramai-ramai berdagang di jalan ini.  Pedagang yang lebih suka berdagang sendiri ditempat lain, sulit mendatangkan pembeli. Kami disini menyebutnya bersaing dalam kebersamaan.”

Pembaca yang kreatif, berterimakasihlah dengan keadaan dan apa yang Anda dapatkan. Syukuri apa yang telah Anda miliki. Sangat jelas disampaikan bahwa, “dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan  menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS Ibrahim: 7)

Dalam acara Syawalan keluarga besar PT K-24 Indonesia (Apotek K24) se-Indonesia secara virtual, saya berbagi inspirasi, ”Bahagialah dengan apa yang bapak/ibu miliki dan teruslah menambah integritas positif dalam bekerja. Syukurilah dengan lancarnya penghasilan yang diterima. Bantulah banyak orang dengan senyuman pelayanan prima. Karena faedah bekerja bukan hanya untuk saat ini saja. Bidang kesehatan menjadi garda terdepan dalam kondisi saat ini”.

Berterimakasihlah bahwa Anda berada dijalur ini.


 “Tidak semua orang diberikan kesempatan untuk menabung banyak kebaikan dalam aktivitas mereka. 
 

Namun mengapa aktivitas kerja yang bisa menjadi kebaikan (amal) ini belum dimaksimalkan sebagian orang? Andaikata mereka memahami bahwa baiknya mereka, sebenarnya untuk mereka sendiri. Bisa saja kita bangga dengan pencapaian kita saat ini. Rezeki lancar, kesehatan prima, mudah urusan dan memiliki relasi orang-orang baik. Namun sadarkah kita, jangan-jangan sebagian yang kita peroleh ini bukan karena jerih payah, kerja cerdas yang kita miliki. Bisa saja disebabkan akumulasi kebaikan orang tua, simbah-simbah kita, yang belum sempat dibalas kepada mereka. Dan kita generasi penerusnya mendapatkan cairan (amal mulia) dari kebaikan itu. Apa yang mau kita banggakan?”

Pembaca yang kreatif, betapa banyak orang begitu bangga dengan yang mereka peroleh dan ternyata semua itu hanya sementara dan habis begitu saja. Persoalan paling banyak muncul dari generasi penerus. Rebutan warisan, kekayaan, bahkan merasa berhak dalam pengelolaan yayasan. Berbeda dengan orang-orang yang menyadari bahwa yang mereka terima adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Mereka mau berbagi. Mereka peduli walau pun tidak terlihat imbalan langsung yang mereka dapatkan. Rasa terima kasih mereka dengan semua yang mereka terima membuat mereka senang dalam membantu orang lain.

Senyuman tulus kepada pelanggan. Ucapan yang menyenangkan dan membuat tenang. Mereka sadar dimanapun mereka berada selalu saja ada kebaikan yang bisa dilakukan. Kebaikan itu bukan terletak pada tempat (lokasi) nya dimana? Tapi lebih terutama terletak pada orang nya. Berterimakasihlah dengan itu semua. Bukankah kebahagiaan itu dimulai dengan pandainya kita dalam berterima kasih. 

Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 21 Mei 2021 Rubrik Inspira halaman 8.


BAGIKAN