Pembaca yang kreatif, sudah lama saya tidak bertemu secara langsung dengan sahabat saya Lutfi Zein. Seorang profesional, penulis, marketer handal, dan juga seorang inspirator. Lima belas tahun terpisah jarak. Beliau banyak berpindah jabatan sebagai manager di berbagai kota/kabupaten di area Jawa Tengah. Namun kami selalu berkomunikasi dan sharing lewat tulisan dan konten di media sosial. Saat ini Lutfi Zein adalah AVP Post Paid Operation Regional Central Java, DIY & Wes Java Region Indosat Ooredoo Hutchisond. Ketika mengunjungi Kota Yogyakarta, selain melakukan perjalanan dinas, yang ada dalam pikiran beliau juga adalah ingin bertemu saya. Pertemuan yang hanya satu jam itu diisi dengan obrolan santai tetapi memberi penguatan yang dalam. Pak Lutfi mengajak salah satu alumni Amikom yang bekerja di Indosat di area Yogyakarta sebagaisupervisor, namanya Abib Effendy. Mas Abib awalnya bertanya-tanya bagaimana bosnya ini (Pak Lutfi) bisa mengenal saya. Cerita kami yang mengenang masa career days hingga in house trainingpun sampai pada satu kalimat inti, yaitu “Jualan itu mudah, yang sulit adalah pikiran kita.”Mas Abib terlihat sangat mencerna setiap kata/ kalimat yang diucapkan seniornya ini. Orang yang berbicara ini tentulah sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Pandai dalam berkomunikasi
persuasif. Berpengalaman dalam dunia pemasaran serta transaksi jual-beli di lapangan. Bisa jadi urusan berjualan tidak ada yang tidak dipahaminya. Bahkan sampai pada tingkatan meng gerakkan orang yang tidak memiliki hubungan instruksional. Kalau anda menggerakkan orang yang satu garis instruksional dengan Anda, itu bisa jadi hal biasa. Namun, bagaimana Anda bias menyuruh atau meminta orang yang Anda tidak memiliki jalur dengan mereka? Tentu sudah terbayang ‘betapa sulitnya’. Anda harus membangun harmonisasi antar jaringan. Hubungan pertemanan mesti dijalin. Kalau bukan sahabat/teman tidak mungkin orang mau melaku-
kannya untuk Anda. Apa yang membuat semua itu bisa berjalan lancar? Usaha kita yang terus men-
coba. Dan apa yang membuat itu tidak mungkin? Jawabannya kembali lagi ‘pikiran kita’ yang membuat menjadi sulit. Pembaca yang kreatif, tentu Anda sering menghadiri acara wisuda. Bahkan Anda sendiri juga pernah diwisuda. Cobalah Anda perhatikan, mengapa orang ketika di wisuda, kuncir akan dipindahkan dari kiri ke kanan? Tentu ada maksud dibalik itu kan? Semua itu bermakna bahwa ketika kita di bangku kuliah, sudah terbiasa menggunakan otak kiri. Maka ketika masuk ke dunia industri, dunia profesional diharapkan kita tidak sekadar hanya menggunakan otak kiri namun juga menggunakan kemampuan otak kanan yang bisa memicu imaginasi, kreativitas dan inovasi. Dan bersyukurlah jika ternyata dalam perkuliahan dahulu keduanya sudah kita maksimalkan. Pembaca yang kreatif, kuncir itu juga layaknya pembatas buku. Berpindahnya kuncir dari kiri ke kanan juga menandakan, kita sedang membalik hala man buku. Harapannya setelah wisuda kita tetap membaca, membuka halaman demi halaman, membaliknya. Sehingga kita terus bergerak, dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Bersemangat menambah wawasan sehingga memperkuat pengetahuan. Menjalin perte- ma nan dengan banyak orang. Saling bekerjasama dengan orang lain, agar per- soalan dan tantangan semakin mudah untuk diselesaikan. Yakinlah semua proses itu akan mudah untuk kita lakukan, yang membuatnya sulit, bahkan men jadi betapa sulit adalah pikiran kita sendiri. Sehat dan teruslah terinspirasi.