Biasakan Agar Terbiasa

Pembaca yang kreatif, Pak Fajar Cahyanto sebagai moderator menutup webinar "Public Speaking dan Presentasi Digital" yang dilaksanakan oleh Magister Ekonomika Pembangunan UGM, pada Kamis (4/11) dengan satu kalimat pendek "Biasakan Agar Terbiasa. Orang hebat wajib bicara." Itulah kata yang tepat bagi Anda yang sedang menapaki karier dan menyiapkan diri menjadi leader. Anda akan banyak berkoordinasi dengan orang lain, memberikan penyuluhan, memimpin rapat, dan bertemu kolega bisnis. Bahkan walaupun sudah berada pada level yang lebih tinggi, Anda tetap saja akan terus menjual produk atau jasa yang perusahaan Anda miliki. 

Banyak tantangan ketika kita berperan sebagai public speaker. Salah satunya adalah hambatan kecemasan (gugup). Penyebabnya bisa dikarenakan tidak percaya diri, tidak bisa, dan tidak menguasai materi. Namun yang paling mendasar dan jawaban yang sering didengar ketika kemudian yang bersangkutan menawarkan peran itu kepada yang lain adalah karena "tidak terbiasa". Saya ulangi sekali lagi, sesuatu yang sekarang besar tentu dulunya kecil. Bahkan yang kecil dulunya belum ada.

sesuatu yang sekarang besar tentu dulunya kecil

Pembaca yang kreatif, Anda perlu mencoba hal baru untuk memperkuat yang Anda jalani. Bahkan perlu juga mengambil kesempatan berupa tantangan untuk bisa naik ke tahapan berikutnya. Teruslah bergerak karena dengan bergerak kita akan tahu jalan. Berlarilah agar kita semakin cepat. Take off seperti pesawat yang akan terbang menuju tempat lebih jauh. Moving forward untuk terus mengasah kemampuan diri yang semakin tajam dan berarti. Dalam sesi materi saya meminta peserta melihat benda yang ada di sekitarnya beberapa detik. Kemudian dengan menghitung maju: satu, dua, tiga, saya meminta peserta mengambil salah satu benda. 

Bu Titik Minarti memperlihatkan di kamera kalau beliau mengambil tas pensil. Saya meminta beliau untuk berbicara dan menawarkan tas pensil itu kepada seluruh hadirin yang ada di Zoom. Selama dua menit beliau menyampaikan presentasi dadakannya itu. Saya meminta peserta di chat Zoom menuliskan kata "beli atau tidak" untuk produk yang ditawarkan, sambil menghitung dari angka satu menuju 60 detik. Masing-masing peserta menuliskan jawabannya. Sebagian besar menuliskan kata "beli". Hebatnya, Bu Titik sama sekali tidak terpengaruh dengan anak-anaknya yang muncul di kamera ketika beliau bercerita tentang kotak pensil itu. Bukan hanya sekadar muncul, putrinya bahkan sampai memeluknya dari samping dan belakang. Namun Bu Titik tetap tidak terpengaruh dengan hal itu. Fokusnya tetap menjelaskan tas pensil. Hadirin tersenyum ketika saya mengatakan kalau Bu Titik ini adalah "pedagang sejati", hehe.

Pembaca yang kreatif, apa yang membuat Bu Titik tetap fokus? Ternyata bagi Bu Titik "bagaimana" dia bisa menjelaskan produk itu dengan maksimal. Dia bahkan tidak begitu terpengaruh dengan bagaimana nanti respon audiens ketika dia selesai menyampaikan presentasinya. Diluar dugaannya, sebagian besar orang merespon dengan sangat antusias. Itulah yang kita bisa petik pelajaran. Ketika Anda presentasi, Anda tidak perlu memikirkan bagaimana nanti tanggapan audiens tentang Anda. Apalagi kalau tanggapan yang anda inginkan adalah, Anda ingin dikatakan "bagus, keren, mantap". Anda akan kecewa ketika bukan itu kalimat yang mereka berikan. 

Bolehlah kita berekspektasi dengan yang kita lakukan, namun jangan terlalu terfokus "bagaimananya nanti". Fokuslah Anda akan berbuat maksimal dan yakin dengan itu. Audiens akan menanggapi dengan antusias. Mereka tidak menduga hal terbaik yang Anda berikan. Tunjukkan antusiasme dan betapa Anda peduli serta ingin menjelaskan semuanya dengan maksimal. Disitulah orang akan melihat kesungguhan yang Anda lakukan.

Sehat dan teruslah terinspirasi.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 5 November 2021 Rubrik Inspira halaman 8.


BAGIKAN