Bisa Karena Terbiasa

Pembaca yang kreatif, beberapa hari ini kita banyak mendapatkan kiriman file presentasi keputusan bersama empat kementerian (Kemdikbud, Kemenag, Kemenkes, dan Kemendagri) yang memberikan panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran dan akademik baru di masa pandemik Corona Virus Disease (Covid19).

Prinsip dari kebijakan pendidikannya adalah kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat merupakan prioritas utama. Salah satu pola pembelajaran pendidikan tinggi di Tahun Akademik 2020/2021 menyebutkan bahwa Pembelajaran di perguruan tinggi pada semua zona wajib dilaksanakan secara daring (online) untuk mata kuliah teori dan sedapat mungkin juga untuk mata kuliah praktik.

Pembaca yang kreatif, melihat kondisi yang seperti ini, maka dunia pendidikan harus sangat mempersiapkan diri dengan kuliah daring. Selama ini banyak yang sudah melakukannya namun masih ada yang menggunakan metode asynchronous yaitu pembelajaran dengan pemberian materi elektronik secara interaktif yang disertai penjelasan dan dokumen materi pendukung melalui media online (misalnya Google Classroom atau WhatsApp).  Sebenarnya, seberapa siap kita dengan perkuliahan daring? Masih banyak terdapat keluhan dari para pengajar yang tidak terbiasa dengan metode online. Selain faktor kuota, isu kejadian bobolnya akun mobile banking setelah menggunakan aplikasi conference khususnya Zoom menjadi ketakutan tersendiri.

Disisi lain, banyaknya keluhan mahasiswa yang mengatakan kuliah online berubah menjadi tugas online serta mulai membandingkan dengan pembelajaran luring (offline) yang dirasa lebih enak. Pemikiran saya mungkin tugasnya tidak sebanyak online, hehe. Kalau kita mau mencari peluang, saat ini banyak sekali modal pengetahuan dan skill dalam pembelajaran daring, seperti video tutorial dan webinar yang dilaksanakan secara internal dan secara nasional. Contoh webinar pembelajaran daring yang dilaksanakan oleh Kemdikbud 18 Juni 2020 yang mengupas segmen teknologi, pedagogi, dan materi pembelajaran.  Kita bisa jika kita mau. Itulah inspirasi untuk saat ini. Saya bersyukur jauh sebelum Covid-19 sudah terbiasa memberikan kuliah matrikulasi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) pada program studi Teknik Informatika, program Magister yang sudah dimiliki oleh AMIKOM.

Pembaca yang kreatif, dalam pembelajaran daring yang diharapkan adalah pengajar bisa melakukan Metode Synchronous. Metode ini adalah Pemberian materi tatap muka secara interaktif dengan video conference dan/atau audio conference (misalnya dengan aplikasi Zoom, WebEx, Google Meet, Skype). Video dan audio conference dapat direkam dan dibagikan kepada mahasiswa dalam link google drive, bahkan pengajar bisa mengunggahnya ke channel Youtube, sekalian belajar sebagai Youtuber dengan konten-konten keilmuan, positif, dan inspiratif. Jika hal itu dilakukan terus-menerus maka pembelajaran daring akan semakin menarik dan asyik dengan konten videonya yang semakin banyak dan beragam. Sesuatu yang wajar dalam melakukan sesuatu yang baru terkadang kita memiliki kekhawatiran bagaimana hasilnya nanti. Namun kita juga tidak akan pernah tahu kalau tidak pernah mencobanya.

Kalau yang dilakukan dirasa tidak maksimal, masih terdapat kekurangan maka fokusnya adalah memperbaikinya dengan bisa berbagi (sharing) dengan orang-orang yang terbiasa dan punya pengalaman. Lalu bagaimana jika berhasil? Saya yakin Anda akan semakin menikmatinya. Ketika seorang pengajar enjoy dan asyik maka audiens juga akan enjoy dan asyik. Teruslah lakukan, maka Anda akan terbiasa dan audiens anda juga semakin terbiasa dan menikmati pola pembelajaran daring yang Anda berikan. Semua bisa karena terbiasa. Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 19 Juni 2020  Rubrik Inspira halaman 10.


BAGIKAN