Pembaca yang kreatif, kamis (8/8/2019) saya berbagi inspirasi dengan mahasiswa baru Akademi Komunikasi Radya Binatama (AKRB) dalam pelatihan motivasi. kuatnya motivasi itu bisa dilihat dari kemampuan seseorang mendapatkan pencapaian tinggi atau mendapatkan prestasi.
Saya berbagi kisah All england, wimbledon, Inggris, dimana arena ini bergengsi bagi atlet bulu tangkis. Ada beberapa nama Indonesia yang mengukir nama emas di arena tersebut seperti Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Rudy Hartono, Chun Chun, Johan Wahyudi, Ade Chandra, Liem Swie king, Kristian Hadinata, dan Icuk Sugiarto. dari nama-nama di atas yang paling legendaris ada lah Rudi Hartono, yang mana telah delapan kali menjadi juara tunggal. Rudi memang terkenal sangat disiplin dan tidak pernah mengecewakan pelatih-pelatihnya.
Pada suatu kejuaraan All england, Rudy Hartono berhadapan dengan Sture Johnson, juara eropa asal Swedia. Situasi sangat kritis karena pada set pertama Sture Johnson unggul 15-4 dan set kedua ia sudah unggul 14-0. Semua pendengar RRI dan pemirsa TVRI benar-benar terhenyak karena satu angka lagi tamatlah Rudy Hartono. "Alhamdulillah," teriak penyiar RRI, Shutlecock saat itu berpindah ke tangan Rudy. “Aku ingin satu angka saja” kata Rudy ketika memulai servis. kedudukan kemudian berubah 1-14. Saat itu, rudi kembali berkata dalam hati. “Aku ingin satu angka lagi”, maka terjadilah 2-14. Akhirnya, rudi dapat memaksakan hasil imbang 14-14 dan rudy mengakhiri set kedua dengan 17-14.
Sture Johnson benar-benar heran. Sedangkan penonton Indonesia bertepuk tangan riuh rendah. Set ketiga, rudy lagi-lagi berkata, “Aku ingin satu angka lagi, aku ingin satu angka lagi.” Set ketiga pun berakhir dengan 15-0 untuk Rudy Hartono. Ia pun maju ke final me lawan finalis dari denmark, Spend Pri. Punch Gunalan pun berkomentar, “Jika melawan Rudy, belum mencapai angka 15, maka belum tentu menang."
Glenn Clark pernah memberikan nasihat berharga, “kalau anda ingin menempuh jarak jauh dan cepat, ringankanlah beban Anda. Tanggalkanlah segala iri hati, kecemburuan, ketidakrelaan mengampuni, serta sikap mementingkan diri sendiri, dan ketakutan.”
Pada saat memberikan kuliah tentang manajemen stres, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada mahasiswanya, "Seberapa berat menurut Anda kira-kira segelas air ini?" Para mahasiswa menjawab mulai dari 200 gram sampai dengan 500 gram. "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tetapi tergantung berapa lama Anda memegangnya. Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika Anda memegangnya selama satu jam, lengan kanan Anda akan sakit. Dan jika Anda memegang satu hari penuh, mungkin Anda harus memanggil ambulans.
Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama Anda memegangnya maka bebannya akan semakin berat," kata Covey. Para siswa masih memperhatikan penjelasan Covey. "Jika kita membawa beban ini terus-menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya. Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi," lanjut Covey.
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang dari aktivitas, tinggalkan beban Anda. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi esok. Apapun beban yang ada di pundak, coba tinggalkan sejenak. Setelah istirahat dapat diambil lagi.
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 9 Agustus 2019 di Rubrik Inspira halaman 22