Pembaca yang kreatif, alkisah seorang anak laki-laki yang dikejar keluar dari sebuah toko oleh pemiliknya karena ketahuan mencuri. Orang-orang di sekitar toko ramai melihat kejadian itu. Si Ibu pemilik merogoh saku kiri si anak dan di dapati satu botol dan dua strip obat. Pemilik toko dengan nada tinggi bertanya, “Untuk apa kamu mengambil ini? Jawab!”. Si anak dengan tertunduk mengatakan, “Saya ingin memberikannya ke ibu saya.”
Kemudian, seorang penjual sop menghampiri keduanya. Walaupun terlihat dari jauh putrinya melarang ayahnya untuk ikut campur. Si penjual sop bertanya kepada si anak laki-laki yang hanya tertunduk itu, “Apakah ibumu sakit?” Setelah di tunggu beberapa saat, si anak itu pun menganggukkan kepalanya.
Tanpa berpikir panjang si bapak ini menghitung beberapa lembar uang dan menyerahkannya ke si pemilik toko. “Jangan kamu ulangi lagi ya!” ujar pemilik toko sambil berlalu. Penjual sop memanggil putrinya dan menga takan, “Veggie soup”. Mendengar perintah itu, putrinya pun dengan dongkol menuruti perintah ayahnya dan datang dengan satu tentengan sop yang sudah dibungkus.
Si penjual memasukkan ketiga obat tadi ke dalam kantong plastik dan menyerahkannya ke anak laki-laki itu. Wajah si anak yang tadi tertunduk, perlahan melihat ke bapak penjual sop. Mengambil bungkusan itu dan berlari. Bapak dan putrinya hanya melihat si anak laki-laki tadi berlari tanpa berkata-kata.
Pembaca yang kreatif, ibarat kisah dalam film, 30 kemudian, penjual sop yang sudah terlihat tua, dipanggil putrinya yang telah menjadi perempuan dewasa. Palingan wajah si bapak ke puterinya tadi cukup dibalas puterinya dengan memberikan kode lewat raut wajahnya di depan ada orang. Ternyata seorang pengemis sedang diam dengan ekspresi memelas. Si bapak mengambil bungkusan yang sepertinya sudah dipersiapkan dan memberikannya kepada si pengemis lalu berkata “Ini, silakan”. Sambil meminta anaknya untuk menyiapkan pesanan berikutnya, tiba-tiba si bapak terjatuh. Menggetarkan minuman yang ada di meja dan menjatuhkan barang yang dipegangnya. Putrinya berlari menghampiri si bapak.
Singkat cerita, di rumah sakit seorang dokter ter lihat berdiri memandangi si bapak yang sedang terbaring sambil melakukan observasi. Di luar ruangan terlihat putri si bapak, sambil menerima telepon dan melaporkan kondisi ayahnya. Seorang petugas medis mendatanginya dan menyerahkan kertas berisi besaran biaya yang harus dibayarkan setelah pasca operasi. Tertulis angka mendekati seratus juta.
Puteri si bapak hanya termenung memikirkan biaya itu. Dia masih terbayang bagaimana keputusan atas konsultasinya dengan dokter terkait kondisi ayahnya. Jalan satu-satunya adalah rumah yang sekaligus warung itu dijual dan itu sudah dia lakukan dengan menuliskan kata ‘Dijual’ di depan pintu.
Keesokan paginya, ketika bangun dari tidur di samping ayahnya. Perempuan ini menemukan dua lembar kertas terlipat. Dan sepertinya dia mengenal surat itu adalah tagihan yang harus di bayarkan. Namun pada halaman kedua, apa yang tertulis membuat dia bingung dan berkaca-kaca. Dia memerhatikan angka-angka yang ada, mengapa semua tertulis 0 (nol)? Dia memperhatikan, ada satu catatan yang ditulis oleh dokter yang merawat ayahnya, “Semua biaya telah dibayar 30 tahun yang lalu dengan tiga pack obat dan satu bungkus veggie soup”.
kebaikan kecil yang kita lakukan, bisa saja menjadi kebaikan dan kesehatan yang begitu berarti untuk kita dimasa yang akan datang
Pembaca yang kreatif, saya tidak tahu kebenaran pasti dari kisah itu. Banyak sekali kisah yang serupa dalam buku, video dan media sosial. Namun satu hal yang harus kita ketahui adalah kebaikan kecil yang kita lakukan, bisa saja menjadi kebaikan dan kesehatan yang begitu berarti untuk kita dimasa yang akan datang.
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 25 Juni 2021 Rubrik Inspira halaman 8.