Ketenangan Itu Rezeki

Pembaca yang kreatif, Prof M Quraish Shihab ketika ditanya mengenai rezeki oleh audiens mengatakan bahwa masalah rezeki adalah terkait kepuasan hati. Sedikit yang diperoleh bisa lebih baik dari pada banyak yang diperoleh oleh orang lain dikarenakan orang itu tidak menda patkan rezeki untuk ketenangannya.

Sebagai contoh seseorang yang mendapat penghasilan satu bulan Rp 3 juta dibandingkan dengan seseorang yang mendapatkan gaji 15 juta. Yang dapat 15 juta bisa jadi tidak mendapatkan ketenangan sehingga pengeluarannya banyak dan tidak ada dari uang sebesar itu yang ditabungnya. Namun yang memperoleh gaji Rp 3 juta barangkali selalu diberikan Kesehatan dan pengendalian diri sehingga masih ada uang yang ditabungnya.

Jangan pernah mengukur rezeki dengan materi karena bisa jadi yang diberi oleh Allah bukan materi tetapi ketenangan batin. Hal itu jauh lebih mahal.

Pembaca yang kreatif, situasi pandemic Covid19 saat ini tentunya membuat perubahan drastis pada penghasilan yang diperoleh oleh seseorang. Seorang tetangga yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan menceritakan sebagian pegawai yang dirumahkan dengan gaji yang tersisa sekian persen. Ada tetangga yang menjadi karyawan sudah keluar dari pekerjaannya per April dengan pesangon yang hanya cukup dengan mengontrak rumah selama satu tahun. Ada pegawai yang sudah tidak berharap banyak dari gajinya tiap bulan karena mengharap uang transportasi dan uang kegiatan dikantornya. Namun di satu sisi masih ada hal yang patut di syukuri dengan lancarnya gaji dan mungkin bonus yang diterima oleh karyawan lainnya.

Pembaca yang kreatif, apa yang terjadi Ketika kita dihadapkan pada situasi sulit atau mendesak? Tak lain adalah kreativitas yang akan muncul. Karyawan dalam bidang pemasaran harus semakin menikmati dalam telemarketing, presentasi daring, memanfaatkan media sosial dan jika pernah belajar atau mengikuti pelatihan Neuro-Linguistic Programming (NLP) maka ini adalah saat yang tepat untuk mempraktikkan hal itu. NLP adalah sebuah pendekatan komunikasi, pengembangan pribadi, dan psikoterapi.

Pembaca yang kreatif, hal baik dalam kondisi ini adalah kepedulian bagi yang memiliki rezeki berlebih atau orang yang juga sebenarnya sempit namun masih menyisihkan yang dimilikinya untuk berbagi kepada tetangga sekitar yang membutuhkan. Kegiatan ini juga bisa dikoordinir oleh pengurus RT atau pengurus takmir masjid sekitar.

Hal-hal baik seperti ini perlu untuk digalakkan, seperti kita sedang menabung energi positif. Suatu saat nanti hal yang positif itu Kembali kepada kita. Seperti melempar bola ke dinding, maka bola itu memantul lagi kepada kita. Bisa jadi perhatian kecil yang kita berikan berdampak besar bagi orang yang menerimanya. Bukankah Anda merasakan kebahagiaan dan ketenangan dapat berbagi dengan orang lain? Pada awal work from home (WFH) kita masih berpikir mengenai diri sendiri, tentang apa yang harus dilakukan. Dua pekan bekerja dari rumah membuat kita harus mulai aktif dengan cara-cara baru dalam menyikapinya.

Setelah sebulan WFH kita mulai berpikir bagaimana kita juga dapat membantu orang lain. Masa seperti ini sangat tepat dikarenakan satu pekan kedepan Insya Allah masuk pada awal bulan Ramadhan. Kepedulian yang kita berikan bisa menjadi motivasi bagi orang-orang di sekitar kita agar terus move on. Yakinkan pada diri kita bahwa kita tidak sendiri menghadapi situasi ini. Tidak hanya satu kompleks, satu kota, satu negara, tetapi banyak negara di dunia. Komunikasi di WhatsApp Group chat dengan teman-teman dosen di Malaysia pun menceritakan bagaimana situasi mereka yang hampir mirip dengan kita.

Siapa yang akhirnya sukses pada kondisi seperti ini adalah pribadi yang selalu tenang. Karena ketenangan itu merupakan rezeki yang diberikan Yang Maha Kuasa sehingga kita tetap bersemangat menebar kebaikan. Sekecil apapun itu tetap ada manfaatnya.

Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 3 April 2020 di Rubrik Inspira halaman 10


BAGIKAN