Pembaca yang kreatif, alkisah di lobby hotel terlihat seorang tamu yang akan melakukan proses check in. Tamu tadi menyampaikan keinginannya kepada staf receptionist. Tamu tersebut, menginginkan kamar dengan tipe double bed. Mungkin maksudnya adalah kamar yang di dalamnya terdapat dua tempat tidur (twin bed). Istilah ini jelas memberi arti yang berbeda. Double bed dengan twin bed jelas berbeda. Receptionist hotel menyampaikan sudah menyiapkan kamar sesuai pesanan. Ketika mengetahui kamarnya adalah satu tempat tidur, tamu tadi mendadak emosional. Apalagi pada saat itu lobby hotel memang sangat ramai karena saat-saat check out dan check in tamu.
Pegawai hotel berkata dengan sopan, “Baik bapak, saya coba cek sebentar”. Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, "Maaf Pak, email Anda menyebutkan tipe kamar double bed artinya tempat tidur ini satu dan besar. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar dua tempat tidur (twin bed) jika memang ada. Tetapi semua kamar twin bed kami sudah penuh." Tamu yang marah itu berkata, "Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya hanya mau kamar double (dua tempat tidur)." Tamu tadi menimpali, "Anda tahu siapa saya?" Dilanjutkan dengan kalimat "Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat saja nanti. Saya akan buat Anda dipecat." Di tengah gencaran kata-kata emosional tadi, staf receptionist ini pun menyela, "Bapak, kami menyesal sekali, tetapi kami melakukan semua berdasarkan pesanan Anda."
Akhirnya, tamu yang sudah sangat marah tadi mengucapkan, "Saya tidak akan mau lagi tinggal di kamar yang paling bagus sekalipun di hotel ini! Sekarang, pelayanannya benar-benar jelek," dan ia pun keluar. Seorang tamu lainnya menghampiri meja pegawai receptionist yang baru saja dimarahin itu. Dia tetap menyambut tamu dengan ramah, mengucapkan salam dan menyampaikan, ada yang bisa dibantu?
Tamu yang kedua berkata kepada pegawai ini, "Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar-benar sabar." "Ya, Bapak," ujar pegawai hotel. Dia melanjutkan, "Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Bapak lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang susah tadi mungkin baru saja ada persoalan keluarga atau bisnisnya sedang lesu. Bisa jadi ia merasa kalah, dan ini adalah peluang untuk melampiaskan kekesalannya. Kebetulan orang yang dia temui adalah saya.” Pegawai tadi menambahkan, "Pada dasarnya, mungkin ia orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu." Sambil melangkah menuju lift, tamu kedua mengulang perkataan si pegawai, "Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu." Tamu kedua tadi berkata sendiri pada dirinya, ingat dua kalimat itu kalau ada orang yang marah “Gak usah dibalas. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah membiarkan orang tersebut melepaskan amarahnya, dan kemudian lupakanlah.”
Pembaca yang kreatif, persoalan dan kesenangan akan selalu hadir dalam aktivitas kita. Sering sebagian kita terpaku, terdiam, bahkan kepikiran ketika sampai di rumah tentang ucapan yang meng hampiri kita. Keluarga yang tidak mengertipun kena getahnya. Kalimat yang terucap seperti sepeda motor yang digas. Tetangga pun kena dampaknya ketika diskusi kecil di grup WA. Sayang sekali kita harus menjalani kehidupan sehari penuh dengan perjalanan emosional (energi negatif) seperti ini.
Dengarkan apa yang orang katakan, lalukan yang baik yang ingin Anda lakukan. Ketika kemarahan dan ucapan emosional yang Anda terima maka segera lupakanlah. Masih banyak urusan yang harus Anda selesaikan.
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 4 Desember 2020 Rubrik Inspira halaman 8