Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada 24 Mei 2026 yang bertepatan dengan 7 Zulhijah 1447 H. Tausiah kali ini disampaikan oleh Rahmadi Wibowo, Lc., M.A., M.Hum., selaku Kepala Lembaga Pengembangan Studi Islam UAD sekaligus anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dengan mengusung tema "Refleksi Dakwah Nabi Ibrahim".
Mengawali kajiannya, Ustaz Rahmadi mengajak jemaah untuk merefleksikan makna nikmat umur panjang agar senantiasa "makmur", baik secara zahir (tercukupinya kebutuhan pokok) maupun makmur secara batin. Kemakmuran batin dapat dicapai melalui pengendalian hawa nafsu dan kemampuan membedakan antara kenikmatan indrawi yang bersifat sementara dengan kebahagiaan hakiki yang bersemayam di dalam hati. Ia menekankan bahwa keimanan kepada hari akhir akan membuat seorang muslim lebih berhati-hati dalam bertindak serta menjadikan rida Allah Swt. dan pahala sebagai orientasi utama dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari urusan pekerjaan, pernikahan, hingga berbisnis.
Terkait perjalanan dakwah, ia mengingatkan bahwa mengajak manusia kepada kebaikan dan keimanan selalu mendatangkan ujian serta risiko yang berat. Ujian tersebut dapat berupa penolakan, cacian, boikot pekerjaan, siksaan fisik, hingga cobaan dari orang-orang terdekat di dalam keluarga. Rintangan luar biasa ini juga dialami oleh Nabi Ibrahim alaihissalam yang harus berhadapan dengan ayahnya sendiri, melawan penguasa zalim Raja Namrud, bahkan hingga diancam akan dibunuh dengan cara dibakar. Namun, berkat keteguhan iman dan penyerahan diri yang total, Allah Swt. mengangkat kedudukan Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah atau kekasih-Nya.
Gelar Khalilullah tersebut, menurut Ustaz Rahmadi, lekat dengan prinsip Al-wala wal-bara, yakni kesetiaan dan kecintaan total kepada Allah Swt. serta berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan dan hal-hal yang dibenci-Nya. Ketauhidan yang dibawa Nabi Ibrahim mengajarkan umat manusia untuk memutus rantai ketundukan pada taklid buta warisan leluhur, penguasa yang zalim, serta penyembahan terhadap benda mati dan fenomena alam. Di era modern, wujud nyata dari komitmen tauhid ini adalah kesadaran untuk selalu berpegang teguh pada prinsip halal dan haram, serta senantiasa menjauhi kemaksiatan kontemporer seperti investasi bodong maupun judi online yang hanya akan berujung pada kehancuran dan ketidaktenangan hati.
Di pengujung tausiah, ia mengimbau jemaah untuk memperbanyak membaca dan menggali kisah Nabi Ibrahim, terutama dalam momentum bulan Zulhijah ini. Harapannya, umat Islam dapat meneladani keteguhan tauhid beliau dan senantiasa berupaya menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Swt. Kajian ini kemudian ditutup dengan bacaan hamdalah bersama-sama. (Ito)