Mengasah Gergaji

Pembaca yang kreatif, dua pekan yang lalu, ketika mengisi motivasi untuk seluruh sekolah dalam naungan Direktorat Pendidikan Daarut Tauhiid secara daring, KH Abdullah Gymnastiar dalam sambutan sekaligus tausiyah mengatakan, “Masa pandemi ini, kita seperti sedang mengasah gergaji. Pribadi yang paling rajin, maka setelah selesai pandemi (wabah) ini dia akan semakin tajam. Tapi yang salah menggunakan waktu dia akan tumpul, maka selesai wabah ini, yang tumpul tidak akan terpakai. Wabah ini bukanlah beban, wabah ini kesempatan mengasah diri.”

Pembaca yang kreatif, dalam masa hampir satu tahun ini apa yang sudah Anda asah? Apakah Anda merasa ada hal yang bertambah atau sama saja? Atau malah terasa semakin melambat? Selamat, bagi Anda yang sudah melakukan banyak hal kreatif sehingga semakin produktif. Teman saya, yang biasa disapa Coach Rona, dalam produksi acara podcast banyak sekali peran yang dia urus sendiri.

Selain sebagai manajer podcast, dia juga sebagai konseptor, merangkap kameramen, script writer, dan searching talent. Belum lagi aktivitasnya sebagai dosen dan influencer. Saya melihat dia semakin sibuk beraktivitas. Saya salut sekali dengan kehebatannya mengelola acara, padahal dia juga di rumah sebagai ibu muda yang sedang mendampingi anak yang sedang aktif-aktifnya.

Pembaca yang kreatif, jika Anda merasa hampir satu tahun ini tidak banyak yang berubah dan begitu-begitu saja, sepertinya Anda perlu melihat yang dilakukan oleh orang lain. Inspirasi bisa saja Anda dapatkan dengan melihat karya mereka. Jangan terlalu antipati dengan karya orang lain sebelum anda melihat lebih dekat dan jelas. ‘Katanya’ dan ketidaklengkapan data bisa membuat kita sekadar menduga. Buka diri Anda terhadap masukan orang lain. Tidak perlu menyalahkan dengan terlalu banyak berkomentar dan memberi kritik, jika Anda sendiri juga kalau melakukannya tidak lebih baik.

Mentor saya sering mengatakan, jadikan gelas Anda kosong ketika melihat dan mendengarkan orang lain, dengan begitu Anda bisa mempelajari banyak hal. Jika gelas Anda penuh, maka Anda hanya bisa merasa sudah cukup dan tidak membutuhkan masukan lagi dari orang lain. Masa seperti ini, tidak saatnya hanya berkomentar dan menduga, saatnya mencoba dan bekerja bersama (berkolaborasi).

Pembaca yang kreatif, bagaimana dengan anda yang merasa sama sekali tidak ada penambahan ilmu, wawasan, ide, karya, malah cenderung merosot tajam? Istilah saya ke seorang sahabat seperti tiarap. Melihat keatas gak berani karena takut ketembak, menutup mata malah gak melakukan apa-apa (pasrah)? Saatnya Anda bangkit, cobalah duduk, memikirkan sesuatu yang memiliki nilai manfaat untuk Anda dan orang sekitar. Setelah ketemu, cobalah untuk berdiri. Saatnya melangkah melakukan ide baru dan berlari mengejar ketinggalan. Sahabat saya, Dr Kusrini, sewaktu kami talkshow bareng di acara Podcast sampai menegaskan, “Sangat disayangkan di masa pandemi saat ini, kita tidak melakukan apa-apa, bisa hancur (tak berdaya) kita. Di tengah keterbatasan saat ini, kita tetap harus kreatif dengan apa yang bisa kita lakukan. Saatnya mengumpulkan pundi-pundi ilmu dan skill. Di masa depan yang menang adalah orang yang sudah siap.”

Pembaca yang kreatif, asahlah terus kemampuan diri Anda di setiap saat, setiap waktu. Paham itu dengan belajar, bisa itu dengan berlatih. Agar kita mendapatkan pemahaman tentang ilmu, maka kita perlu belajar. Agar kita bisa menggunakan dan semakin profesional dalam aktivitas kita maka perlu dilatih. Sehat dan sukses selalu.

 

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 5 Februari 2021 Rubrik Inspira halaman 8


BAGIKAN