Pembaca yang kreatif, sifat yang kita kembangkan pada masa kanak-kanak merupakan yang paling mungkin menetap pada hidup kita. Dalam waktu yang cepat sebagian sifat itu mungkin ada yang kita suka dan ada juga yang kita tidak sukai.
Kisah seorang Shaun Carol menjadi contoh yang dapat kita jadikan pembelajaran. Shaun adalah seorang kepala keluarga dengan satu orang anak yang memiliki banyak harapan untuk kehidupan lebih ba ik. Ia memiliki pekerjaan yang baik, istri yang mencintainya, dan seorang anak laki-laki. Namun semua itu berisiko dikarenakan satu aspek dari kepribadiannya.
Shaun menyetujui kamera dipasang di mobilnya untuk melihat permasalahannya, yakni dirinya sangat mudah lepas control dalam situasi tertentu. Ia juga sangat mudah terpancing marah sampai pada titik yang tidak terkendali. Dalam kamera yang dipasang di mobilnya, terlihat Shaun mudah sekali mengucapkan kata-kata makian atau ungkapan negatif.
Adrenalinnya begitu tinggi sehingga ia begitu cepat marah ketika perjalanannya terganggu dengan pengendara lain. Adrenalin adalah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh. Shaun mengakui bahwa jika tubuhnya mengambil alih, maka otaknya seperti menjadi kosong selama 10 detik.
Dia akan mudah berteriak, menjerit, dan memaki. Semua hal itu terjadi secara langsung. Setelah itu terjadi, dampak negative yang lebih parah adalah dia bisa marah selama dua jam. Setelah keadaan reda dia hanya bisa malu dan menyesali sikapnya yang demikian.
Hal yang tidak diharapkan adalah jika Angie, sang istri, juga merasakan dampak dari ke marahannya. Walaupun tidak ada kemarahan secara fisik, namun istrinya menjadi takut kalau itu menjadi contoh teladan yang buruk bagi putranya dan hubungan mereka menjadi retak.
Niat baik dari Shaun adalah dia menyadari betul yang dia lakukan dan demi keutuhan keluarganya maka kemarahannya harus dia hentikan. Shaun pun mencoba melakukan pendekatan baru yaitu menemui Jo Ellen Grzyb, seorang psikolog pengendali emosional (marah).
Pertemuannya dengan psikolog itu dilakukan dengan sesi intensif berminggu-minggu lamanya dengan tujuan mengatasi kemarahan Shaun. Jo mengatakan jika bicara soal ekspresi emosi kemarahan maka ada dua sisi ekstrem, yaitu sisi yang baik dan sisi yang buruk.
Di dalam otak ada satu area yang bertanggung jawab atas emosi kita yang memicu kemarahan yaitu Amygdala. Amygdala Shaun menyala terlalu mudah dan sering. Akan tetapi ada bagian otak yang dapat menyetop impuls-impuls ini yang disebut Lobus Frontal, yakni semacam pusat pengendali di otak. Jika Shaun dapat memperkuat pengaruh Lobus Frontal-nya maka dia mungkin dapat mengendalikan kemarahannya. Itulah yang diusahakan dalam terapi Shaun. Salah satunya adalah ketika dia sedang marah maka dia bisa mengulur waktu. Contohnya "Oh, ada yang tertinggal di mobilku. Nanti aku segara kembali." Bisa juga dengan “Oh ya, sebentar HP saya kelupaan belum diaktifkan."
Kalau ia seorang dosen mungkin, "Oh ya saya membuka kelas dulu." Kalau pegawai, “Sebentar, saya tadi mau menemui direktur." atau hal yang umum adalah “Maaf, saya ke belakang dulu”. Bagi Shaun, apa saja yang dapat mengeluarkannya dalam konfrontasi secara langsung dan itu perlu dilatih terus-menerus.
Pembaca yang kreatif, pada kondisi saat ini kita perlu menahan diri. Lebih baik memilih menyampaikan informasi yang baik dan positif untuk kita bagi kan di berbagai grup media sosial. Bisa juga membuat story yang memiliki pesan memotivasi agar semua orang patuh, menahan diri, dan mengikuti arahan pemerintah, tokoh, pemuka agama, pimpinan kerja bahkan ketua RT untuk mem batasi kegiatan di luar, mulai menikmati beraktivitas dari rumah, dan menjaga jarak dalam menghadapi penyebaran dan pembatasan virus korona (Covid-19).
Banyaklah membaca informasi dan memahami protocol ketika Anda keluar ke klinik, apotek, atau membeli kebutuhan pokok atau yang lainnya yang mendesak. Semoga kemampuan kita dalam mengendalikan diri membuat kita menjadi pribadi yang lebih sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 27 Maret 2020 di Rubrik Inspira halaman 10