Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam public speaking seperti menjadi MC, moderator, dan lain sebagainya. Pertama, paham apa tujuannya sehingga tidak banyak bertele-tele. Kedua, melakukan analisis audiens misal harus paham seperti apa audiensnya, mengetahui jenis kelamin, sosial ekonomi, agama, minat, jumlah audiens, pengetahuan, dan pengalaman.
Kemudian yang ketiga, memperhatikan ruang dan waktu, melakukan riset, acaranya apa, narasumbernya siapa, harus mengetahui semua konsep acara, perlu menyiapkan catatan dan alat untuk memperjelas informasi, serta sering latihan atau praktik. Terlebih bagi yang sering demam panggung, hal ini akan memengaruhi ketika tampil.
“Master of ceremony (MC) kini telah menarik minat banyak orang. Ada senangnya ketika menjadi MC meskipun di balik itu ada tugas dan kewajiban yang tidak mudah. Senangnya ketika MC banyak dikenal orang, bisa bertemu langsung dengan tamu undangan,” tutur Raden Mohammad Ali, S.S., M.Pd. saat memaparkan materinya pada acara yang diselenggarakan Fakultas Agama Islam (FAI) UAD Yogyakarta via Zoom Meeting dan YouTube Official FAI UAD, Kamis (15-06-2021).
Pemateri pada webinar ini merupakan dosen bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Pengalaman di bidang public speaking sudah banyak, seperti menjadi tim MC wisuda di Universitas Gadjah Mada, host Gema Ramadan TVRI Yogyakarta, MC Muktamar Muhammadiyah 2010 di Mandala Krida, dan pernah menjadi reporter serta kameramen PT Transformsi Televisi (TRANS TV).
Menurut Raden Mohammad Ali, untuk menjadi pembawa acara yang baik dibutuhkan syarat-syarat tertentu, di antaranya berpenampilan menarik sesuai dengan jiwa acara, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, memiliki kemampuan bahasa yang baik dan benar, memiliki warna suara yang berkarakter, mikrofonis, olah vokal yang baik, berpengetahuan luas, berjiwa periang, serta memiliki pengetahuan tentang mendesain acara maupun protokoler.
Arif Rahmat, S.Pd.I., M.Pd.I. selaku wakil dekan FAI UAD menyampaikan, kegiatan ini merupakan ikhtiar, karena melihat mahasiswa, siswa, dan para guru, masih kesulitan ketika menjadi moderator ataupun MC. Tentunya dibutuhkan trik-trik jitu, yang semua itu terangkum dalam keterampilan public speaking. Apabila sudah menguasai dengan baik, pasti ketika tampil di depan audiens akan terlihat luwes.
Ia juga mengimbuhkan, “Begitu juga di tingkat organisasi mahasiswa (ormawa), perlu adanya pelatihan seperti ini. Harapannya ketika ada acara tidak kerepotan mencari yang ahli di bidang moderator dan tidak hanya melibatkan dosen. Oleh karena itu perlu adanya proses kaderisasi.” (Ree)