Pembaca yang kreatif, pikiran, tubuh, dan emosi berada dalam sistem yang sama dan saling berhubungan. Ketika Anda bertemu dengan rekan bisnis dan berusaha meyakinkannya. Maka dalam komunikasi persuasif, ini bukan persoalan apa yang Anda lakukan? Ini lebih menekankan bagaimana cara Anda melakukannya. Hasil didapat dari apa yang sudah anda lakukan, bukan dari rencana dan keinginan anda saja. Strategi pertama adalah masuk pada dunianya (mitra Anda) dengan menyelami setiap pribadinya dan berusaha memahami kondisinya. Kenyamanan yang dirasakan itu akan mempermudah bagi kita untuk menguatkan pesan yang sudah direncanakan. Contoh yang banyak dilakukan pemimpin dunia adalah menyamakan gerak-gerik tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, bahkan sampai irama tarikan nafas.
Strategi kedua, pada saat berbicara dengan klien, berlatihlah menjadi pendengar yang aktif. Responslah pernyataan yang keluar dengan menyesuaikan gerakannya tanpa terlihat oleh klien Anda. Tambahkan kalimat setuju untuk menyambung pembicaraan. Anda perlu membangun keterikatan dengan topik yang disukai. Kalau dalam perkuliahan, ketika saya mengungkit cinta dan drama Korea. Entah kenapa mahasiswa sangat merespon dan bahkan membuat teman-teman satu kelasnya baper (bawa perasaan). Begitu pacing berhasil, Anda mulai masuk dalam tahapan leading, dari satu tahap hingga ke tahap akhir (menguasai). Leading, berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing Anda lakukan. Keberhasilan komunikasi yang efektif terletak pada sejauhmana keberhasilan anda dalam melakukan pacing. Ketika klien semakin nyaman berbicara dengan Anda, maka Anda harus menyiapkan diri pada kondisi leading terus. Mulai satu kali, dua kali, tiga, bahkan sampai Anda memegang peranan dalam pembicaraan.
Strategi ketiga yang Anda lakukan adalah menyamakan pesanan. Jika Anda diundang ke satu resto/café tempat pertemuan dengan klien, saya menyarankan, pesanlah makanan, minuman yang sama/seolah serupa. Misal klien Anda memesan nasi goreng dan teh panas, samakan saja menunya. Anda sendiri pasti paham, jika mentraktir seseorang makan-makan di mana Anda memesan mi goreng dan es teh. Nah, teman yang Anda traktir tadi memesan sop buntut dan es campur. Kata mahasiswa, ini namanya ‘melunjak’, he he. Ketika menu pesanan sama maka akan memunculkan pembicaraan akrab yang bisa dimulai dari makanan tadi.
Lain halnya kalau mengajak guru/mentor/senior Anda atau orang yang anda kagumi, terserah beliau sajalah mau pesan apa. Jika seseorang itu adalah figur, maka tidak akan ada persoalan apapun, dikarenakan figur adalah sosok yang dipercaya. Pernah sahabat saya Letkol Agung Riyadi (Kabag Humas RSPAU) berbagi penguatan keprotokolan institusi. Ada hal yang begitu menggelitik ketika staf yang mendampingi pejabat atau tamu VIP makan. Staf diminta untuk menahan diri, agar makanan dan minuman yang dipesan disamakan bahkan kalau boleh harganya di bawahnya pesanan tamu. Canda tawa bermunculan. Staf mulai berpikir bagaimana jika tamunya pesan air mineral atau teh tawar saja, he he. Kemampuan berkomunikasi sangat diperlukan dalam kondisi begini. Jika Anda ingin tamu memesan minuman seperti yang anda ingikan, maka referensikan minuman itu sebelum tamu menyampaikan pesanannya. Contoh es teler di restoran ini spesial sekali bapak. Banyak tamu yang menyukainya. Kalau bapak mencobanya mesti terkesan dengan rasanya. Nah, kalau tamu menganggukkan kepalanya atau muncul isyarat setuju, maka Anda tinggal sampaikan ke pelayanan, “Pesan dua ya, kak,” hehe. Selamat, Anda lebih cerdas. Semoga menginspirasi bagi Anda yang biasa dan akan menemani tamu di rumah makan.
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 26 Maret 2021 Rubrik Inspira halaman 8.