Perguruan Tinggi Perlu Riset Multidisipliner agar Lebih Relevan dan Berdampak

Pola riset di perguruan tinggi Indonesia dinilai masih terlalu terkotak-kotak. Banyak penelitian hanya berfokus pada satu isu tunggal, seperti teknologi, lingkungan, atau ketahanan pangan. Padahal, tantangan global saat ini justru menuntut pendekatan lintas bidang agar hasil riset lebih relevan dan berdampak.

Guru Besar Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Eko Priyo Purnomo, S.IP., M.Si., M.Res., Ph.D., mengingatkan bahwa riset yang berdiri sendiri semakin sulit mendapatkan dukungan dari lembaga pendanaan, industri, maupun mitra internasional.

“Kalau riset hanya bicara satu isu, peluangnya kecil. Tapi ketika dikombinasikan, misalnya teknologi dengan green economy atau ketahanan pangan dengan ekonomi kreatif, itu lebih menarik bagi industri,” ujarnya dalam workshop Membangun Budaya Penelitian Inovatif yang digelar Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY secara daring, Jumat (12/9).

Menurut Eko, praktik riset yang parsial membuat hasil penelitian sering kali tidak menjawab kebutuhan nyata. Banyak karya ilmiah berhenti sebatas publikasi, tanpa berlanjut ke tahap hilirisasi.

“Kita tidak bisa meneliti pangan tanpa bicara energi. Tidak bisa bicara teknologi tanpa menyentuh green economy. Semua isu saling terhubung,” tegasnya.

Ia menjelaskan, tren global riset saat ini bergerak ke arah multidisipliner. Misalnya, penelitian perubahan iklim selalu dikaitkan dengan pangan, energi, hingga migrasi. Demikian pula riset kesehatan kini erat hubungannya dengan teknologi digital dan ekonomi kreatif.

Untuk menjawab tren tersebut, Eko mendorong peneliti di Indonesia berani memadukan berbagai isu. Riset ketahanan pangan, misalnya, dapat dikombinasikan dengan ekonomi kreatif sehingga tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka peluang usaha baru di pedesaan.

Begitu pula riset energi terbarukan yang dikaitkan dengan isu lingkungan, menurutnya, bisa melahirkan inovasi yang sekaligus mengurangi emisi karbon dan memenuhi kebutuhan energi masyarakat.

“Dengan kombinasi isu, riset kita bisa lebih aplikatif sekaligus berpeluang besar mendapat dukungan global,” katanya.

Eko menambahkan, perubahan paradigma riset juga harus diikuti perubahan indikator kinerja di perguruan tinggi. Selama ini dosen lebih banyak dinilai dari jumlah publikasi. Ke depan, penilaian perlu mencakup paten, jejaring industri, serta kemampuan mengombinasikan berbagai bidang penelitian.

“Industri mencari solusi, bukan sekadar jurnal. Itu sebabnya riset kombinasi lebih kontekstual, lebih aplikatif, dan lebih mudah dihilirisasi,” ucapnya.

Laboratorium kampus, lanjutnya, perlu difungsikan lebih produktif, tidak hanya sebagai ruang praktik mahasiswa, tetapi juga pusat inovasi yang melibatkan industri dan masyarakat. Dengan begitu, laboratorium dapat menjadi pintu masuk hilirisasi hasil riset.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa riset tidak boleh berhenti pada kolaborasi akademisi dan industri. Pertanyaan penting yang harus dijawab setiap penelitian adalah siapa penerima manfaatnya. Kelompok marjinal, pedesaan, dan daerah tertinggal harus ikut merasakan hasil riset.

“Riset yang baik adalah riset yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar menambah angka publikasi di Scopus atau Sinta,” tegasnya.

Untuk memperkuat posisi riset Indonesia di tingkat internasional, Eko juga mendorong perguruan tinggi lebih selektif dalam memilih mitra. Bukan jumlah yang penting, melainkan kualitas kemitraan yang menghasilkan program unggulan.

“Jangan sekadar banyak mitra, tapi fokus pada strategic partner. Dari sana kita bisa melompat ke level global,” katanya.

Menurutnya, joint research dan flagship program dapat menjadi jalan agar riset Indonesia diperhitungkan di panggung dunia. Ia optimistis pendekatan lintas isu akan membantu riset Indonesia keluar dari jebakan publikasi semata.

“Publikasi tetap penting, tapi itu hanya pintu masuk. Yang utama adalah inovasi, hilirisasi, dan kebermanfaatan nyata,” pungkasnya. (Mut)


BAGIKAN