Pembaca yang kreatif, sebagai materi penutupan pelaksanaan Pelatihan Super Unggul Daring berbasis NLP yang saya berikan sejak Senin sampai Kamis pekan ini, saya meminta 24 peserta yang semuanya adalah mahasiswa baru untuk menggambarkan posisi mereka 5-10 yang akan datang. Banyak pertanyaan yang saya ajukan. Beberapa di antaranya adalah, seberapa yakin mereka dengan impian itu?
Siapa orang-orang yang selayaknya hadir dan merasakan keberhasilan itu? Pertanyaan itu juga dijawab secara emosional oleh mereka, bahkan sampai pertanyaan, apa yang Anda rasakan ketika Tuhan mengizinkan keinginan itu terwujud? Saya bisa merasakan ekspresi di wajah mereka. Mereka tidak menangis, tapi saya tahu kedalaman pertanyaan itu. Yang menarik lagi adalah jawaban yang muncul dari para mahasiswa ketika saya bertanya, jika diberikan perumpamaan maka Anda ini seperti apa?

Pembaca yang kreatif, jawaban-jawaban mereka membuat saya tersenyum, tersentak dan kagum dengan pemaknaan berdasarkan pemahaman mereka sebagai generasi Z. Mahasiswa bernama Aditya menggambarkan seperti cheetah yang mengejar rusa. Secepat apapun rusa itu, cheetah akan terus berlari mengejarnya sampai dapat. Yoga, memilih memberi gambaran seekor anak singa jantan yang dilepas mandiri oleh induknya untuk hidup mandiri. Paskalis memilih sungai, yang di permukaan terlihat tenang namun di bawah arusnya kencang menerobos semua kendala yang dilaluinya. Nurul dan Ivan, mengumpamakan kura-kura, yang dibalik kelambatannya, dia terus berusaha dan pasti sampai pada tujuan. Yosida memilih singa melambangkan karakter kepemimpinan.
Kemudian, Sasi memilih merpati yang melambangkan kesucian, ketulusan, dalam perbuatan. Ammar melambangkan semut, karena sukses itu butuh orang lain (bekerja sama). Nancy, memberi perumpamaan seperti langit yang selalu ada dalam keadaan apapun. Athariq seperti pohon kelapa, yang semua bagiannya berguna dan tidak mudah roboh.
Pembaca yang kreatif, saya meyakini apa yang mereka tulis dan gambarkan adalah curahan dari pikiran mereka. Curahan dari apa yang mereka rasakan. Saya berpesan, pegang dan jaga terus cita-cita (keinginan) itu. Saya membayangkan jika mereka sedang tidak bersemangat dalam aktivitas mereka, sedang memiliki permasalahan hidup. Mereka bisa melihat, membaca, merenungkan apa yang mereka susun dalam penetapan tujuan itu. Menjadi seperti perumpanan yang mereka contohkan. Memang tidak mudah meraih apapun kesuksesan yang dicanangkan.
Mereka bisa belajar dari sungai, arus yang kencang dibawah terlihat damai diatas. Belajar seperti merpati yang tetap berkomitmen kepada pilihannya. Seperti anak singa jantan yang siap menjadi besar dan memimpin. Menjadi seperti cheetah yang berlari terus kemanapun meraih yang diinginkannya. Seperti elang yang siap dan siaga kapanpun ketika dibutuhkan. Layaknya pohon kelapa, yang semua ada padanya bermanfaat pada banyak orang.
Jika tujuan yang sudah divisualisasikan ini hanya disimpan dalam tumpukan kertas, maka ini hanya tumpukan kertas. Lain halnya jika mereka mengunggah ini sebagai story di media sosialnya. Biarkan orang lain melihatnya. Mungkin ada yang mencibir namun pasti ada yang mendukung dan mendoákan. Untuk meraih apa yang diinginkan hasilnya hanya ada dua, yaitu kesuksesan dan kegagalan. Fokuslah kepada kesuksesannya dan bangkitlah dari kegagalan jika itu terjadi. Yakinlah setelah hujan deras, insya Allah akan muncul pelangi. Berbagi warna kebahagiaan bagi banyak orang, bermanfaat seperti matahari yang menyinari tanpa pilih kasih.
Pembaca yang kreatif, jika Anda yang ditanya, maka Anda akan mengumpamakan diri Anda seperti apa? Jawaban dan penafsirannya boleh Anda unggah di story anda masing-masing.
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 24 Juli 2020 Rubrik Inspira halaman 10.