Perumpamaan Diri (Bagian 2)

Pembaca yang kreatif, kalau Anda diminta untuk menuliskan sembilan keinginan untuk masa 5 sampai 10 tahun yang akan datang, apa saja yang Anda tulis? Mengapa Anda bersemangat untuk melakukan itu?

Jika saya memberikan tantangan kepada Anda, tolong hapus tiga keinginan yang energinya paling rendah. Dan mengapa itu yang dihapus? Saya akan berikan tantangan kembali, tolong pilih tiga keinginan yang energinya paling besar? Dan tentunya Anda berikan kembali alasannya. Sekarang paling emosional adalah pilih satu saja yang Anda inginkan.

Pembaca yang kreatif, kalau Anda mengikuti pertanyaan saya tadi, tentunya akan berbeda jika saya bertanya satu keinginan Anda sejak awal. Dengan memilih dari sembilan, kemudian enam, lalu tiga dan akhirnya tinggal satu. Maka saya yakin itu adalah sesuatu yang berarti dan saya yakin anda akan memiliki semangat kuat untuk melakukannya.

Ketika saya bertanya kepada 17 orang mahasiswa baru dalam Pelatihan Super Unggul di angkatan pekan ini, bahwa semangat itu berarti juga ketika kita memberikan perumpamaan terhadap diri kita. Bagian ini melanjutkan tulisan yang sebelumnya, ketika saya menulis tentang perumpamaan diri.

Diawali dari mahasiswa bernama Riche memberikan perumpamaan seperti rakit. Rakit memberi makna dalam meraih kesuksesan tidaklah instan, seseorang mungkin bersakit-sakit atau bersusah dahulu dengan usaha kerasnya dan suatu saat nanti mendapatkan keberhasilan.

Widi mencontohkan pohon, yang dilambangkan seperti penebaran kebaikan. Dengan menanam satu pohon kebaikan, maka buah yang tumbuh dari pohon tersebut juga adalah kebaikan yang kita tanam. Rizky memberi perumpamaan seperti pensil warna, yang berarti mampu memberi warna bagi orang banyak agar hidupnya lebih hidup. Kemudian, Eka menggambarkan terang dan garam. Di mana seseorang haruslah menerangi setiap jalan dan memberi rasa bagi banyak orang. Hidup kita bukan hanya bermanfaat buat diri kita sendiri saja tepati juga bermanfaat untuk orang lain.

Adapun Panji memberi perumpamaan lebah madu, melambangkan lebah yang bekerja keras untuk ratunya untuk membuat sarang sebesar mungkin. Hasil madunya bisa dinikmati untuk kesehatan dan manfaat buat manusia. Kalau dicontohkan pada dunia kerja, maka seorang pegawai akan bekerja keras dan cerdas untuk kemajuan institusinya. Dengan adanya dia, dapat memberi added value dalam penguatan dan pencapaian target perusahaan semakin berkembang dan sukses. Adanya dirinya sebagai sumber bermanfaat dan manis seperti madu.

Bagas memberikan contoh semut yang berarti selalu bekerja sama dalam mewujudkan impian. Kita tidak mungkin sendirian, tentu ada bantuan orang lain dalam suksesnya kita, seperti kalimat, “Kuat Bersama, Lemah Berpisah”.  Alega memberikan contoh pohon kelapa, yang setiap bagiannya memiliki manfaat. Sehingga dimanapun kita berada, apapun aktivitas kita tetap memiliki arti dan berguna bagi sekitar. Cahya mengumpamakan mahkota, melambangkan kemakmuran, kejayaan, dan keabadian.

Afrida dan Indra mengumpamakan air yang sejuk, berguna untuk banyak hal. Semua orang membutuhkannya. Maka sangat indah jika diri ini, aktivitas diri dan usaha yang dilakukan berguna dan dibutuhkan banyak kalangan. Yang unik adalah mahasiswa yang bernama Akbar, yang mengumpamakan seperti burung hantu. Sifat yang tenang tapi berbahaya, diam tapi tajam, pemikir, dan bijaksana.

Sebagai penutup, seorang mahasiswa bernama Iqbal memberikan gambaran seperti langit. Walaupun tinggi tetapi tidak pernah menyombongkan diri. Langit walau jauh namun terasa dekat dipandangan mata. Seorang yang sudah sukses dengan posisi puncak tetap rendah hati dan penuh kebijaksanaan.

Pembaca yang kreatif, kembali saya bertanya, sudahkah Anda menemukan perumpamaan pada diri Anda?

Sehat dan sukses selalu.

 

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 14 Agustus 2020 Rubrik Inspira halaman 10.


BAGIKAN