Pikiran dan Waktu

Pembaca yang kreatif, beberapa kali peserta dalam pelatihan yang berbeda bertanya dengan diawali komentar, “Bicara sih mudah, tapi melakukannya yang sulit”. Tentu arah pembicaraannya adalah bagaimana konsistensi seseorang. Tidak hanya pandai bicara namun nol aksi. Jadi, ukuran sebenarnya terletak pada komitmen. Orang yang sepenuh hati mesti berusaha melakukan apa yang dikatakannya. Jika bicara saja namun tidak ada tindakan berarti komitmennya tidak seratus persen. Kembali lagi kepada kita? Mendengarkan motivasi, mendapatkan inspirasi, mengikuti pelatihan, apakah semua materi itu masuk dalam pikirian kita? Kadang-kadang orang becanda ketika terlihat tim tidak kompak, “Wah materinya gak masuk ini.” 

Pembaca yang kreatif, melatih kekompakan tim itu bisa diawali dari seberapa peduli kita kepada team work. Paling tidak, ada tiga tingkatan yangn mengarah kepada penguatan tim kerja itu, diantaranya Sukarela dalam Bekerja Sama, Sepenuh Hati (Pikiran dan Waktu), dan Kreativitas yang Menyenangkan. Cobalah kita lihat, tentang kerelaan dalam bekerja sama. Target pekerjaan membuat orang fokus bahkan kadang hanya memikirkan Key Performance Indicator (KPI) mereka. Hal ini tentu berdampak tidak begitu peduli dengan kerjaan dan target orang lain. Cobalah anda menempatkan diri dalam posisi orang yang membutuhkan bantuan. Pastilah anda akan merasa ditinggal, tidak dianggap oleh rekan lainnya. 

Berpikir bagaimana jika kita yang berperan seperti orang lain, akan membuat anda ingin “menabung” pernah berbuat baik/perhatian kepada orang lain. Tidak ada ruginya menjadi orang baik. Bahkan sampai pada posisi dimanfaatkanpun saya yakin anda akan tetap menyimpan tabungan baik. Sahabat saya sempat mengunggah gambar dengan tulisan “Jika kita terlalu baik, maka orang seenaknya” hehe.  Saya sempat berpikir sepertinya teman ini sedang dimanfaatkan oleh seseorang. Namun balik lagi, bagaimana kita menyikapinya? Saya sering juga dimanfaatkan oleh seseorang, bahkan saya tahu ini sedang dimanfaatkan. Namun biarkan saja, karena suatu saatpun kita mestilah mendapatkan bantuan dari orang lain juga.

Pembaca yang kreatif, kondisi kedua adalah sepenuh pikiran dan waktu yang Anda berikan dalam tim kerja. Ketika Anda berada ditempat kerja. Apakah pikiran Anda disitu? Ataukah ditempat lain? Tidak sedikit orang yang berada di kantor namun pikirannya masih di rumah atau liburan. Mungkin juga ketika liburan kelamaan akhirnya dia juga tidak betah. Akhirnya ingin segera bekerja dari kantor. Pengalaman menarik ketika seorang teman kantor mengambil cuti beberapa hari untuk agenda keluarga. Dia sudah merencanakan perkiraan dana, acara, serta menginap di hotel yang diinginkan.

Ternyata kamar di hotel itu penuh. Agenda berubah hanya dengan jalan dan makan saja. Besarnya biaya makan membuat dana yang disiapkannya berkurang terus. Sehingga tidak sesuai dengan rencana yang sudah disusunnya. Hanya menikmati dua hari cutinya yang belum selesai, teman tadi akhirnya masuk ke kantor. Beraktivitas di kantor dalam keadaan cuti. Sederhana saja alasannya, karena kalau tidak ke kantor maka dia harus keluar jalan dan makan. Tentu kondisi itu membutuhkan biaya lagi yang lebih besar. Paling tidak  di kantor banyak makanan, hehe. Kami di ruangan hanya tersenyum mendengarkan alasannya.

Dan kami sebenarnya juga senang, dikarenakan teman ini adalah salah satu dari tim kerja dengan semangat kreativitas yang tinggi. Banyak ide kreatifnya yang membuat skema acara berlangsung keren dan lancar. Sepertinya dia hanya kurang keren dalam mengelola keuangan. Kalau begitu mestinya dia butuh bantuan orang yang lebih expert. Dan orang itu mestilah mengarah ke istrinya, hehe.

Sehat dan teruslah terinspirasi.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 4 Februari 2021 Rubrik Inspira halaman 8.


BAGIKAN