Transformasi digital menjadi salah satu kunci penting dalam pembangunan pertanian masa depan. Di tengah perubahan pasar pangan global yang semakin dinamis, petani tidak lagi hanya dituntut mampu memproduksi hasil pertanian, tetapi juga harus mampu mengelola informasi, membaca kebutuhan pasar, serta membangun sistem usaha tani yang lebih transparan dan terhubung.
Guru Besar Bidang Ilmu Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Triyono, S.P., M.P., menyebutkan bahwa tata kelola informasi kini menjadi bagian penting dalam pengembangan agribisnis modern. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar bertajuk “Transformasi Usahatani Organik Menuju Pembangunan Pertanian Berkelanjutan: Integrasi Tata Kelola Agribisnis Kolaboratif, Regeneratif, Berbasis Informasi Digital, dan Berkeadilan bagi Kesejahteraan Petani”, Sabtu (9/5), di Gedung AR Fachruddin B Lantai 5 UMY.
Menurutnya, keberlanjutan sektor pertanian ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan budidaya, tetapi juga oleh kemampuan petani dan pelaku agribisnis dalam memanfaatkan teknologi serta mengelola arus informasi secara efektif.
“Pertanian modern tidak lagi hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang pengelolaan informasi. Data menjadi instrumen penting dalam pengambilan keputusan, mulai dari proses budidaya, distribusi, hingga keterhubungan dengan pasar. Karena itu, sistem pertanian harus dibangun lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan pola ekonomi global,” tegasnya.
Perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi sektor pertanian untuk membangun sistem agribisnis yang lebih efisien dan transparan. Pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), hingga blockchain dinilai mampu mendukung keterlacakan produk pertanian (traceability) yang semakin dibutuhkan dalam rantai pasok pangan modern.
Menurut Prof. Triyono, sistem keterlacakan menjadi penting karena konsumen saat ini semakin memperhatikan asal produk, proses produksi, hingga jaminan kualitas pangan yang mereka konsumsi. Karena itu, tata kelola informasi yang baik tidak hanya membantu petani dalam proses produksi, tetapi juga memperkuat kepercayaan pasar terhadap produk pertanian.
“Traceability bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi bagian dari upaya membangun transparansi dan kepercayaan dalam sistem pangan. Ketika informasi produk dapat ditelusuri dengan baik, maka posisi petani dalam rantai nilai juga akan menjadi lebih kuat,” jelasnya.
Selain mendukung sistem pemasaran dan rantai pasok, digitalisasi juga dinilai penting dalam memperkuat regenerasi sektor pertanian. Prof. Triyono menilai pemanfaatan teknologi digital dapat membuka ruang pembelajaran, inovasi, dan kewirausahaan baru yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Generasi muda hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital. Karena itu, sektor pertanian juga harus mampu bertransformasi agar lebih relevan dengan cara belajar, bekerja, dan berwirausaha generasi saat ini. Digitalisasi bukan hanya soal alat, tetapi juga tentang bagaimana membangun ekosistem pertanian yang lebih menarik dan adaptif,” tandasnya.
Lebih lanjut, Prof. Triyono menegaskan bahwa penguatan sistem informasi pertanian perlu didukung tata kelola agribisnis yang kolaboratif. Pemanfaatan teknologi tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan kelembagaan, pendampingan, serta sinergi antarpihak yang terlibat dalam pembangunan pertanian.
“Digitalisasi pertanian harus dipahami sebagai bagian dari transformasi tata kelola agribisnis. Ketika informasi dapat diakses secara lebih terbuka, teknologi dimanfaatkan secara tepat, dan kolaborasi antaraktor berjalan baik, maka peluang untuk membangun sistem pertanian yang lebih tangguh dan berdaya saing juga akan semakin besar,” pungkas Prof. Triyono. (NF)