Pembaca yang kreatif, rezeki adalah hal yang Anda tidak bisa menduganya. Kalau memang rezeki Anda, bakal gak ke mana. Jika bukan rezeki Anda, maka kayak apapun Anda juga tidak akan mendapatkannya. Begitulah pesan ketika saya talkshow dengan sahabat saya Haji Muhammad Agiel, Kepala SMK Bina Putra Jakarta di Podcast @amikomJogja pada pekan lalu. Dalam satu bulan, sudah tiga kali bolak-balik beliau ke Yogyakarta untuk mendampingi kunjungan siswa dan guru.
Suatu kondisi sederhana yang saya alami. Ketika pulang malam setelah acara penting di kampus, saya melihat teman saya mendapatkan snack kotak yang besar. Snack yang diperolehnya itu, dia dapatkan setelah selesai membantu acara pada malam itu. Saya pun menuju ruangan acara dan melihat seseorang yang sedang duduk.
Saya menyampaikan terima kasih dan pamit. Beliau membalas salam itu dan sepertinya tidak paham dengan maksud saya untuk melihat lagi ke ruangan itu. Berlalu dari area parkiran saya mendengar suara-suara cerita bahagia dari gedung utama. Sepertinya mereka bersyukur sekali dengan selesainya acara pada malam itu.
Persiapan yang lama rasanya terbayar sudah dengan hasil maksimal. Saya berniat mau memotong jalan ke parkiran depan melewati ke arah gedung utama itu agar bisa bertemu mereka. Tentu dengan tujuan lagi, agar mereka menyadari kalau saya belum mendapatkan bingkisan snack besar, hehe.
Namun mau melangkah, saya berhenti, dan hati kecil ini mengatakan, “Sudahlah jika memang snack itu rezeki, nanti dia akan datang sendiri.” Sekalian uji coba pada cerita sahabat saya tadi. Saya pun berlalu dengan terus memilih jalanan area parkir menuju ke area depan, tempat kendaraan saya di parkir.
Ternyata panitia sudah berpindah ke arah depan lobbi utama untuk mengambil foto bersama. Akhirnya saya pun menyapa mereka dari jauh sambil melambaikan tangan. Memasukkan tas ke kendaraan dan mengambil posisi untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sambil mendengar suara riuh bahagia panitia. Tiba-tiba seseorang berlari kecil ke arah saya, sambil mengatakan, “Pak Erik, maaf ini snack untuk Bapak,” hehe.
Pembaca yang kreatif, itu adalah contoh sederhana mengenai urusan konsumsi. Bagaimana dengan urusan kita lainnya? Dari urusan presentasi, negosiasi, penjualan, sampai penghasilan yang kita terima. Tugas kita adalah berusaha maksimal melakukan proses, menjalaninya dengan kuat dan tidak mengeluh dengan hambatan yang dilalui.
Seseorang mengetahui gaji bulanan yang diterima teman-teman kantornya. Dia agak syok melihat perbedaan nilai yang didapat dengan teman-teman lainnya. Dia sempat menangis membandingkan dan mencoba untuk memahami kondisi realistis itu, walaupun dia tetap tidak kuat.
Saya bertemu dengannya dengan memberikan cara pandang yang semoga dia bisa terima. Ketika seseorang lahir, maka rezeki adalah salah satu yang sudah di tentukan untuknya. Misalkan rezeki seseorang dalam hidup adalah sekian miliar.
Walaupun gaji yang dia terima sebagai pegawai jumlahnya hanya sesuai UMR. Sejumlah UMR itu jika diakumulasikan sampai purna tugas tetap saja tidak akan sampai pada besaran rezekinya. Maka darimana rezeki lainnya? Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Allah memiliki hak prerogatif memberikan rezeki bagi hambanya. Yang diminta untuk kita lakukan adalah teruslah berusaha, bersabar dan melakukan kebaikan demi kebaikan untuk mendatangkan kemurahan rezeki. Apalagi kelapangan dada, menerima semua yang ada. Tidak perlu pusing dengan orang dapat berapa?
Pusinglah jika Anda tidak melakukan apapun dengan rezeki yang Anda terima. Teruslah berpikir untuk memberi, semoga rezeki Anda bertambah karena Anda tidak hanya memikirkan diri anda sendiri. Namun Anda juga memikirkan untuk terus berbagi pada orang lain di sekitar Anda. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS.Al-Kautsar(108):1-2).
Sehat dan teruslah terinspirasi.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 8 Juli 2022 Rubrik Inspira halaman 8.