Sederhana Dalam Bersikap

Pembaca yang kreatif, sahabat saya pak Joko Prasojo ketika menerima informasi dari Kementerian Agama terkait diundurnya pelaksanaan Ibadah Haji 1441 H mengatakan, "Insya Allah ini semua merupakan rencana terbaik dari Allah. Kami Yakin bahwa Allah SWT akan meng gantinya dengan yang lebih baik lagi." Mendengar respons positif itu, kami di Whatsapp Group (WAG) juga memberi respons, “Semoga beliau berdua Bersama istri bisa melaksanakan Ibadah Haji pada tahun depan."

Pembaca yang kreatif, kita tentu berencana, kita melakukan usaha dengan maksimal, namun tetap memahamkan diri kita bahwa menyerahkan hasilnya atas ketetapan yang Maha Kuasa. Kondisi seperti ini tentunya tidak mudah. Apalagi di banyak negara saat ini juga memberlakukan karantina wilayah.

Mengambil hikmah dalam setiap kejadian adalah salah satu hal terbaik. Bisa dibayangkan juga ketidaknyamanan orang yang berangkat harus dikarantina di bandara dengan standar protocol kesehatan yang berlaku. Saya selalu salut dengan ketenangan dan optimismenya Pak Joko. Saya kenal beliau lama. Kami satu tim sebagai pelatih Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) pada Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Yogyakarta.

Pembaca yang kreatif, bagaimana Anda menyikapi satu kejadian? Guru saya, Dr. Muhammad Idris Purwanto pernah menyampaikan, orang itu perlu sederhana dalam keberadaan dan berada dalam kesederhaan. Saya memahami makna ini dalam kehidupan adalah bahwa setiap orang perlu optimisme dalam menyiapkan target dan sederhana menyikapi hal yang belum tercapai.

Sederhana artinya dipikirkan namun tidak perlu sampe tahapan stres (kepikiran banget). Orang perlu berada dalam kesederhanaan dimaksudkan bahwa Anda bisa melakukannya sendirian namun anda mengajak orang lain untuk berkolaborasi. Anda bisa membeli lebih dari itu, namun Anda lebih memilih yang sesuai (pantes) saja. Anda bisa berharap banyak tapi juga memahami bahwa orang itu selalu berproses untuk bisa maksimal.

Mungkin ada orang yang menghargai bahwa minus itu lebih baik dari nol. Dalam arti minus bekerja tapi meleset dari target daripada nol karena tidak ada yang dilakukan. Tentu semua dalam rangka proses yang positif, kondisi ini tidak bisa dijadikan pembenaran. Karena yang dikhawatirkan adalah kreativitas dalam memanfaatkan situasi yang tidak pas. Apalagi dijadikan sebagai status di media sosial. Status di media sosial mencerminkan banyak karakter. Ada yang serius dengan statusnya. Ada yang antipati pada setiap unggahan kata atau berita.  Bahkan ada yang suka bercanda untuk sesuatu yang serius dan terlihat serius namun maksudnya canda. Ini sangat sering kita temukan.

Pembaca yang kreatif, seseorang jelas menginginkan sesuatu yang ideal, yaitu bekerja maksimal dan memberikan hasil positif. Memberi yang terbaik untuk semua proses yang dilakukan sampai pada tahap memberikan prestasi untuk pribadi dan institusi (lembaga/perusahaan tempat anda beraktivitas). Ketika Anda mendapatkan prestasi dari semua yang Anda kerjakan, Anda bisa berbangga, merayakannya, atau sederhana saja dalam menerima dan menyikapinya. Tentu itu kembali kepada Anda.

Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 5 Juni 2020 di Rubrik Inspira halaman 10


BAGIKAN