Pembaca yang kreatif, pukul 08.00 WIB di hari Lebaran pertama, Pak Subiyono (Ketua RT) di lingkungan tempat tinggal kami, mengirimkan pesan WA di grup RT yang diantara isinya, kami atas nama pengurus RT mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi dan bantuan dalam bentuk apapun. Tahun ini kita tidak akan lupa. Tahun dimana saat hari raya kita bisa bersama. Tanpa salaman bukan berarti tak memaafkan. Tanpa pelukan bukan berarti tak sayang. Semoga peristiwa ini menambah erat kerukunan dan persaudaraan kita. Karena tetangga adalah saudara kita yang terdekat.
Untaian kalimat itu begitu inspiratif. Sederhana namun memiliki pesan yang mendalam. Ajakan untuk menambah kuatnya persaudaraan, kerukunan yang bisa kita pahami sebagai silaturahim (rasa kasih saying terhadap sesama). Inspirasi ini bisa kita dapatkan dari hadist, dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya, dan agar diakhirkan sisa umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali silaturahim (HR Al-Bukhâri, no 5985).
Setelah saling memaafkan dengan tetangga satu RT yang tetap mematuhi protocol kesehatan, saya langsung Syawalan virtual (secara online) dengan orangtua, saudara, dan keluarga besar ibu yang ada di Sibolga, Batam, Bekasi, Klaten, dan juga dengan keluarga mertua di Sumbawa Besar, NTB. Ada sesuatu yang baru yang dirasakan oleh keluarga besar, apalagi yang baru pertama kali menggunakan aplikasi conference.
Namun khidmat acara tetap berjalan, penuh dengan permohonan maaf dan memaafkan dibarengi dengan pemakluman dan harapan semua bisa bertemu Kembali di Lebaran tahun depan. Selepas Zuhur, saya diminta berbagi Tausiyah Inspirasi untuk keluarga besar Bani Haji Ma’ruf (keluarga salah satu relasi saya di Yogyakarta).
Lebaran virtual ini juga menghadirkan keluarga besar dengan aplikasi Zoom yang berasal dari Wonosono, Jakarta, Yogyakarta, dan ada yang diluar negeri. Saya merasakan suasana seperti ketemu secara langsung, karena acara disusun dengan sangat rapi dengan diawali Kalam Ilahi, Quran surat Al-Intifar, dan saritilawahnya dibawakan oleh salah satu cucu dari keluarga besar. Dilanjut sambutan dan bahkan pemilihan ketua paguyuban keluarga besar untuk tiga tahun ke depan.
Saya melihat rangkaian acara itu dijalankan dengan suasana yang tenang penuh dukungan. Tahun lalu kita tidak terbayangkan akan seperti ini. Salah satu contoh kondisi new-normal tanpa sadar sudah dilaksanakan. Dalam kesempatan berbagi inspirasi, saya me nyampaikan walaupun raga kita jauh, namun hati kita tetap menyatu. Jarak bukan halangan untuk tetap memperkuat tabungan kebaikan. Dekatnya kondisi siaga Covid-19 (maret 2020) dengan puasa Ramadhan dan Idul Fitri sepertinya memberikan hikmah kepada kita untuk lebih peduli kepada sesame apalagi keluarga besar.
Kita membantu orang lain lewat donasi. Kita bantu tetangga lewat perhatian dari makanan, mi numan, sampai ketenangan tempat tinggal. Sudah barang tentu di antara keluarga besar saling peduli dan mengerti. Kita sering bertemu teman/mitra atau sahabat yang kadang kita anggap sebagai keluarga. Namun jangan sampai yang satu keluarga justru tidak dalam satu ikatan silaturahim. Menguatkan pertanyaan dari budhe di Wonosobo yang bertanya, tentang amal usaha kita. Bahwa yang kita peroleh saat ini bisa saja adalah amal baik yang pernah kita lakukan kepada orang lain (sesama).
Akan tetapi, bisa juga yang kita peroleh saat ini sebenarnya dari amal kebaikan orang tua kita dulu seperti kelancaran urusan, kesuksesan karir, kemudahan rezeki bahkan lancarnya komunikasi kita dengan orang lain. Mereka penuh kerelaan hati melakukan kebaikan tanpa memikirkan apa yang meraka dapatkan. Namun mengapa sebagian kita merasa berpuas diri bahkan sampai pada tahap sombong dengan semuanya.
Pembaca yang kreatif, kita bisa menetralisir semua itu dengan kepedulian berbagi secara langsung maupun virtual, karena situasi saat ini membuat kita Syawalannya secara virtual.
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 29 Mei 2020 di Rubrik Inspira halaman 10