Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Keluarga Besar Universitas Janabadra mengadakan acara Syawalan sebagai bagian dari kegiatan rutin kampus. Adapun karena bangsa Indonesia sedang mengalami wabah pandemi Covid-19, maka syawalan kali ini diganti dengan Syawalan Virtual yang dilakukan secara Daring. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2020 dan diikuti oleh seluruh dosen, karyawan, serta perwakilan mahasiswa dan alumni. Pada Syawalan Virtual kali ini, hikmah syawalan disampaikan oleh Habib Novel Alaydrus dari Majelis Dzikir Ar-Raudhah Semanggi Surakarta.
Rektor UJB, Dr. Ir. Edy Sriyono, M.T., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Syawalan Virtual kali ini mengambil tema “Idul Fitri dalam Keberagaman dan Pandemi Covid-19”. Kampus UJB sebagai kampus kebangsaan sangat menjunjung tinggi keberagaman baik dari keberagaman suku, ras maupun agama. Masa pandemi Covid-19 ini saatnya kita bersatu untuk saling tolong-menolong membantu sesama warga dengan berpegang teguh pada prinsip keberagaman. Rektor UJB dalam sambutannya didampingi oleh seluruh pimpinan Universitas yaitu Wakil Rektor I, Dr. Eng. Mochamad Syamsiro, Wakil Rektor II Siti Rochmah Ika, S.E., M.Sc.,, Akt. Dan Wakil Rektor III Eko Nurharyanto, S.H., M.Hum. Pada acara ini juga diisi sambutan dari Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Janabadra, Drs. Surjadiman, M.M..
Sementara itu, Habib Novel Alaydrus menyampaikan bahwa berbuat baik tidak mengenal batas ruang maupun suku dan bangsa, berbuat baik dilakukan kepada siapapun semua mahluk yang ada di muka bumi ini. Momentum Idul Fitri ini digunakan untuk saling memaafkan, bahkan Habib Novel menganjurkan untuk selalu saling memaafkan setiap hari dan setiap saat. Tidak hanya itu, kita juga dianjurkan memberi maaf dan manfaat untuk orang-orang yang telah mendzolimi kita, yang membenci kita sehingga diharapkan hati mereka akan luluh dan diberi rahmat oleh Allah SWT sehingga akan berubah menjadi baik.
Kebaikan yang sangat dianjurkan oleh Habib Novel adalah dengan mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang memusuhi, membenci dan mendzolimi kita. Hilangkan kebencian dan permusuhan dengan siapapun supaya hati kita tenang dan nyaman. Dalam tausiah penutupnya, Habib Novel menyampaikan prinsip dalam bahasa Jawa, mangan ora mangan kumpul. Wabah pandemi Covid-19 telah membawa hikmah dan berkah untuk orang selalu berkumpul di rumah dengan keluarga.
