Tahun Baru, Semangat Baru

Pembaca yang kreatif, sahabat saya Ustaz Riza Faozi mengirimkan kisah inspirasi kepada saya lewat aplikasi jejaring pertemanan WhatsApp. Dikisahkan pada suatu hari seorang ibu mampir membeli cemilan di tepi jalan. Ketika membeli tiga bungkus keripik dan bertanya berapa harganya, si bapak penjual keripik mengatakan sambil menunduk, "Ibu ambil apa saja?". Spontan si ibu mengerutkan alis. Batinnya bertanya-tanya mengapa si bapak menanyakan hal itu. Meskipun demikian sang ibu tetap memberikan jawaban: "Tiga keripik, pak." Lantas si penjual keripik tadi menyampaikan "28 ribu rupiah, ibu". Si ibu pun menyodorkan uang sebesar Rp 100 ribu. "Maaf, uang ibu berapa?" tanya si penjual keripik masih dalam posisi menunduk. Si ibu yang mulai bingung dengan pertanyaan itu pun menjawab "100 ribu, pak."

Penjual keripik itu berdiri, meraba kantong celananya sambil mengeluarkan sejumlah uang. Dari situ terlihatlah oleh si Ibu, ternyata bapak penjual keripik ini tidak bisa melihat alias buta. Muncullah rasa tidak enak di hati si ibu karena merasa tidak pandai menjaga hatinya karena belum bisa berbaik sangka kepada orang lain. Setelah sempat sibuk mengambil uang dari kantong celananya, sang penjual keripik kemudian menunjukkan semua uang yang ada di tangannya. Ia kemudian meminta sang ibu mengambil kembaliannya sendiri. Terkejut dengan instruksi yang tidak biasa itu, si ibu spontan bertanya: "Pak, seandainya saya memberi uangnya Rp 10 ribu terus saya ambil kembalinya Rp 50 ribu dari tangan bapak, sementara bapak tidak mengetahuinya, apakah bapak tidak rugi?"

Pembaca yang kreatif, lagi-lagi jawaban luar biasa muncul dari penjual yang sederhana ini. "Allah, tidak akan salah alamat memberi rezeki, bu. Kalau sekarang saya rugi, saya yakin Allah akan menyiapkan rezeki lain untuk saya. Hidup tidak hanya sebatas pada untung dan rugi, namun hidup juga belajar tentang sabar dan ikhlas," ujar si bapak. Mendengar jawaban si penjual, perasaan sang ibu pembeli tadi berkecamuk. Ia pun tidak bisa menahan air matanya. Hatinya bergetar mendengarkan jawaban itu. Penjual keripik dalam keadaan ragu bertanya lagi, "Sudah ambil kembaliannya belum bu?". Si Ibu pun menjawab, "gak usah pak, buat bapak saja." Si bapak pun tersenyum sambil mengatakan "Terima kasih, bu."

Pembaca yang kreatif, pembelajaran bisa kita ambil dari kisah ini. Kadang orang sering gelisah dengan situasi yang sedang dialami sekarang. Merasa semua keadaan sempit dan tertutup. Mungkin kita perlu menyadari bahwa kegelisahan itu bisa saja disebabkan karena ketidakyakinan seseorang terhadap Yang Maha Pemberi Rezeki. Saat semakin susahnya kondisi untuk mencari uang, seorang penjual cemilan dengan segala keterbatasannya tetap berusaha dan yakin bahwa Yang Maha Kuasa selalu ada bersamanya. Sepertinya usaha kita perlu kita tingkatkan. Kemauan kita perlu terus kita pompa. Begitu juga, keyakinan kita harus terus kita jaga dan keringanan langkah dalam memberi perlu terus dibiasakan agar hati ini mudah tersentuh untuk membantu orang yang membutuhkan. Hari ini bisa saja kita belajar dari penjual keripik. Esok kita bisa belajar dari juru parkir yang penyabar. Pekan depan kita bisa belajar dari pengemudi aplikasi daring yang pandai bersyukur. Bulan depan bisa jadi kita belajar dari siapa saja. Sampai pada tahap akhirnya kita belajar dari diri kita sendiri. Kita bisa mengambil pelajaran dari setiap waktu yang terus berjalan hingga berganti tahun.

Pembaca yang kreatif, Selamat Tahun Baru Hijriyah. Semoga kita selalu menjalani semuanya dengan semangat baru. Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 21 Agustus 2020 Rubrik Inspira halaman 10.


BAGIKAN