Pembaca yang kreatif, pekan lalu saya mengisi sesi motivasi kinerja pada sebuah acara sarasehan evaluasi dan peningkatan layanan pada Biro Umum, Perencanaan dan Keuangan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ada dua hal penekanan yang saya sampaikan dalam menjaga motivasi bekerja yaitu mindset pikiran dan mindset tindakan. Saya memberikan contoh dengan bertanya kepada hadirin. “Apa kabar bapak atau ibu?”. Serentak mereka menjawab “baik”. Kemudian saya bertanya, “Bapak atau Ibu bisakah jawabannya tidak hanya sekadar baik?” Ketika diulangi banyak jawaban kompak dengan kata “luar biasa”.
Kemudian saya menimpali dengan mengatakan bahwa mereka sepertinya sering mengikuti Multi Level Marketing (MLM) yang kemudian mereka respons dengan tertawa. Cobalah anda teriakkan kata “SMK” di hadapan para siswa SMK, maka mereka akan menjawab “bisa!”. Ucapkan kata “Praja” kepada Satpol PP, maka mereka akan merespons dengan “wibawa”. Cobalah teriakkan kalimat “Rumah Sakit Muhammadyah Bantul”, maka pasti akan dijawab “I can, you can, we all can.” Pada Bank BRI, jika Anda menanyakan “Apa kabar BRI?” jawabannya pasti “luar biasa”. Jika Anda meneriakkan “AMIKOM” maka kami akan menjawab “Creative Economy Park”.
Kemudian muncul ide dari Kepala BUPK UNY, Sukirjo. Kalau disebut “Biro UPK UNY” maka jawabannya adalah “JAYA” yang merupakan singkatan dari makna dari jujur, amanah, yakin, dan aktif. Semoga itu semakin memperkuat UNY yang sudah menguat dengan unggul, kreatif, dan inovatif berlandaskan ketaqwaan, kemandirian dan kecendekiaan.
Pembaca yang kreatif, bekerja itu menurut Arvan Pradiansyah menghasilkan tiga hal yaitu, uang, prestasi dan happiness. Orang yang bekerja karena uang, maka dia akan bekerja hanya sekedar rutinitas. Sutradaranya adalah orang lain, bekerja kalau disuruh, dan semuanya harus serba diingatkan dan terkadang membatasi pekerjaannya dengan mengatakan “wani piro?”, “ada uang jalannya gak?”, atau “ada amplopnya tidak?”. Sebenarnya hal itu tidak masalah. Namun jika ini yang muncul di depan sepertinya dia membatasi dirinya dengan hanya sekedar job.
Pembaca yang kreatif, lebih baik kita memilih membangun prestasi. Orang seperti ini dapat menguatkan institusi dengan karyanya, tulisannya, bicaranya, dan tindakannya dengan fokus membangun karier. Barangkali dia terpikir bahwa bekerja adalah anugerah. Semua orang ditakdirkan dengan profesinya masing-masing. Daripada sibuk memikirkan orang lain dan sibuk mengurusi pekerjaan orang lain, mengapa tidak bersyukur dengan apa yang diterima? Tidak semua orang punya kesempatan bekerja di institusi sekarang. Seperti di UNY, tidak semua orang dapat bekerja di UNY. Tetapi orang-orang di dalamnya berkesempatan menjadi keluarga UNY. Saya pun menyampaikan hal itu kepada peserta pelatihan. Jika disyukuri yang didapatkan adalah kebaikan dan kesenangan. Bekerja dengan senang. Tidak seperti orang yang berkesusahan. Liburan terlalu lama susah karena memikirkan pekerjaan. Sedangkan saat bekerja malah memikirkan liburan. Di kantor memikirkan rumah dan ketika di rumah memikirkan kantor.
Pembaca yang kreatif, sepertinya kita boleh belajar dari kisah seorang sopir di salah satu bank di Yogyakarta yang pada suatu hari libur diminta atasannya mengantar ke sebuah resepsi pernikahan. Padahal hari itu si driver sudah memiliki agenda dengan teman-temannya. Namun karena orangnya memang “entengan” dia dengan cepat mengiyakan permintaan bosnya. Sang sopir ini pun menjemput sang bos dan mengantarkannya ke gedung resepsi. Selesai mengantarkan majikannya pulang, dia mampir ke sebuah angkringan untuk sekedar minum teh. Sampai di angkringan, dia membu ka amplop yang diberikan bosnya dan betapa terkejutnya dia bahwa uang yang di dalam amplop itu sama dengan gajinya setengah bulan plus kartu nama sang bos. Ternyata amplop sang bos tertukar. Amplop yang seharusnya untuk dirinya justru dimasukkan si bos ke kotak resepsi nikah. Ketika sang sopir ingin mengembalikan uang tersebut sang bos justru mengatakan telah mengikhlaskan uang itu untuk sang pengemudi. Maka rasa syukur mendalam sajalah yang dirasakan si sopir.
Pembaca yang kreatif, mari terus berkarya, memelihara optimisme, dan menguatkan rasa syukur. Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 28 Desember 2019 Rubrik Inspira halaman 13