UMY Dorong Mahasiswa Punya Adaptability dan Problem Solving di Era Disrupsi

Perkembangan teknologi, persaingan global, hingga derasnya arus informasi membuat mahasiswa menghadapi tantangan baru dalam mempersiapkan masa depan. Di tengah situasi yang serba tidak pasti, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik, tetapi juga perlu membangun kemampuan adaptasi, ketahanan emosional, dan keberanian untuk terus berkembang.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Frizki Yulianti Nurnisya, S.IP., M.Si., Ph.D., dalam acara talkshow yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Selasa (26/5), di Gedung Djarnawi Hadikusuma UMY, menyebut tantangan mahasiswa saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menggantikan banyak pekerjaan repetitif, sementara persaingan kerja juga semakin terbuka secara global. Kondisi tersebut membuat mahasiswa harus memiliki nilai pembeda agar mampu bersaing di dunia profesional.

“IPK itu penting, tetapi tidak cukup. Dunia kerja mencari adaptability, communication, problem solving, inisiatif, konsistensi, dan emotional resilience. Di era chaos seperti sekarang, yang bisa bertahan bukan hanya yang paling pintar, melainkan mereka yang adaptif,” ungkapnya.

Frizki menilai, saat ini tidak sedikit mahasiswa yang merasa takut salah jurusan, overthinking terhadap skripsi, hingga merasa tertinggal akibat terlalu sering membandingkan diri melalui media sosial. Kondisi tersebut diperparah dengan banjir informasi yang membuat fokus semakin pendek dan pikiran menjadi penuh tekanan.

“Validasi media sosial sering kali membuat mahasiswa semakin rapuh secara emosional. Banyak anak muda sebenarnya sudah memiliki kemampuan dan kualitas diri, tetapi tetap merasa perlu mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar,” katanya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun emotional resilience atau ketahanan emosional sebagai bekal menghadapi ketidakpastian masa depan. Menurutnya, kemampuan untuk berpikir positif terhadap diri sendiri menjadi salah satu kunci agar mahasiswa tidak mudah runtuh oleh tekanan sosial maupun tuntutan zaman.

Frizki juga menilai perubahan tidak harus dilakukan melalui langkah besar. Hal terpenting adalah keberanian untuk memulai kebiasaan kecil secara konsisten. Ia mendorong mahasiswa untuk mulai mengenali ketakutan terbesar mereka, lalu perlahan mencari solusi konkret sesuai kebutuhan masing-masing.

“Cek ketakutan terbesar kalian apa. Kalau takut tidak bisa bahasa Inggris, cari kursus. Kalau terkendala biaya, cari beasiswa. Yang penting tetap progressing, walaupun langkahnya kecil, tetapi dilakukan secara konsisten,” tegasnya. (NF)


BAGIKAN