Pembaca yang kreatif, pada ulasan Channel BBC ilmuwan telah menemukan cara lain yang mengherankan dimana seseorang bisa berusaha untuk menguasai keahlian-keahlian lain. Seorang Rebecca Owen mulai berlatih senam ketika berusia 7 tahun. Ia sangat berambisi memenangkan medali Olimpiade. Rebecca pun berlatih selama sepuluh tahun. Setiap harinya dia berlatih selama lima setengah jam dalam sepekan.
Kerja keras dan bakatnya telah memenangkan medali perak pada Common wealth games 2002. Namun untuk terpilih dalam tim Olimpiade, Rebecca harus belajar Gerakan baru yang sangat sulit yang disebut "Ginga Salto", yaitu gerakan terbang lepas dari bar atas dan melakukan jungkir balik dengan separuh putaran sebelum menangkap bar kembali.
Hal pertama yang dilakukannya adalah melihat bagaimana orang lain melakukan gerakan "Ginga Salto" itu agar mengetahui apa yang harus dilakukan dan seperti apa gerakannya. Ia mulai mendapat umpan balik dari pelatih. Sang pelatih mengatakan apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, dan dimana posisi yang benar dan yang salah. Pelatih tersebut bernama Colin. Ia mengajarkan gerakan baru itu dengan mengangkat tubuh Rebecca kemudian secara fisik membentuk gerakan "Ginga Salto". “Kem bali, lepaskan bar, dan tangan turun”, ujar colin kepada Rebecca.
Sang pelatih mulai mengenalkan gerakan itu pada muridnya itu. Syaratnya, harus berkonsentrasi penuh sampai pelatih mengisi pikiran dengan ide dengan apa yang akan dilakukan. Rebecca merasa cemas dan berpikir tentang kemungkinan berbuat salah. Kemudian, ketika mulai melatih ge rakan "Ginga Salto" secara fisik, ternyata dia gagal menangkap bar sehingga terjatuh. Dia terus mencobanya, namun tetap gagal.
Apa yang dilakukan berikutnya adalah Rebecca mulai menggunakan cara yang berbeda yaitu berupa pendekatan yang lebih radikal. Pendekatannya adalah dengan metode belajar melalui pendekatan visualisasi. Rebecca tidak lagi melakukan latihan fisik (memakai otot), tetapi dia mengulang semua urutan di dalam otaknya.
Rebecca membayangkan setiap tahap dari jungkir baliknya, saat melepas bar, saat memutar tubuh, dan saat ia bisa menangkap bar. Urutan rinci setiap gerakan "Ginga Salto" itu dia bayangkan se cara berulang-ulang, seolah-olah dia telah berhasil menguasai gerakan tersebut.
Ternyata para ilmuwan menemukan ada wilayah di otak yang menjadi aktif ketika membayangkan gerakan tubuh. Ketika Rebecca mengulang gerakan tubuh berkali-kali dalam pikirannya, ia menciptakan rangkaian jalan di sel-sel otaknya. Seolah-olah ia melakukan dan menguasai Gerakan "Ginga Salto" tersebut. Ketika ia melakukannya dengan sungguh-sungguh maka akan menjadi se makin mudah karena jalan di otaknya sudah ada.
Ketika Rebecca melakukan gerakan "Ginga Salto" secara fisik, akhirnya dia berhasil melakukan gerakan tersebut. Semakin sering dia melakukan gerakan itu maka gerakannya menjadi semakin otomatis. Semakin tidak perlu dipikirkan, kecuali usaha untuk memperbaikinya.
Pembaca yang kreatif, visualisasi membantu Rebecca membentuk jalan-jalan baru di otaknya dan memungkinkan tubuhnya jungkir balik dalam melakukan gerakan "Ginga Salto". Rebecca memahami itu dalam menggunakan pikirannya secara lebih efektif.
Visualisasi menggambarkan bahwa pikiran kita juga belajar untuk melakukan sesuatu. Anda yang belum bisa menyetir mobil bisa memikirkan cara ini dalam mengemudi mobil. Anda yang ingin menguasai suatu gerakan ketika akan tampil di depan umum dalam presentasi, bisa juga mencoba melakukannya. Kisah Rebecca Owen bisa dijadikan sumber inspirasi dalam kegiatan bisnis dan profesional.
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 28 Februari 2020 di Rubrik Inspira halaman 13