Zona Ikhlas

Pembaca yang kreatif, Desertasi David R Hawkins MD, Ph.D. yang dijadikan buku berjudul Power vs Force: An Anatomy of Con sciousness, The Hidden Determinants of Human Behavior, menjelaskan bahwa pikiran dan emosi manusia itu memiliki berbagai tingkatan energi (getaran). Penelitian yang dilakukan selama dua puluhan tahun itu menjelaskan bahwa getaran itu ada dua bagian, Yaitu, getaran power (energi kuat/positif) dan getaran force (energi lemah/negatif). 

Dikatakan negatif apabila frekuensinya di bawah 200 Hz. Ada delapan hal yang termasuk energi negatif dalam ulasan ini. Pertama, rasa malu 20 Hz (mengarah kepada kurangnya harga diri, martabat, atau rasa bangga). Kedua adalah rasa bersalah 30 Hz (keadaan di mana menyalahkan orang lain atau lingkungan sekitar). Ketiga, apatis 50 Hz (keadaan putus asa, merasa tidak memiliki harapan). Keempat adalah kesedihan 75 Hz (kondisi menyesali suatu perbuatan yang sudah terjadi).

Selanjutnya, kelima, takut 100 Hz (situasi khawatir, kecemasan pada sesuatu yang akan atau belum terjadi). Keenam, keinginan 125 Hz (yaitu hasrat, diperbudak hawa nafsu). Ketujuh, marah 150 Hz (benci dengan keadaan atau semua hal). Terakhir adalah bangga/sombong 175 Hz (menghina, meremehkan sesuatu atau orang lain). 

Pembaca yang kreatif, David R Hawkins juga mengungkapkan getaran magnet energi di bawah 200 Hertz menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit. Namun dia juga menyampaikan bahwa orang yang memiliki frekuensi positif di atas 700 Hz maka kekebalan tubuh dan vitalitasnya sangat tinggi.
Diantara getaran yang masuk pada energi positif adalah, berani/semangat 200 Hz (terkait pada afirmasi dan penegasan), netral 250 Hz (keadaan percaya dan yakin dengan kehormatan, kebenaran dan kemampuan). Kemauan 310 Hz (situasi optimistis, serta berharap yang terbaik).

Bersyukur/menerima 350 Hz (keadaan memaafkan dan ikhlas). Berpikir/memahami 400 Hz (mengerti, berpikir mendalam, tafakkur). Cinta 500 Hz (rasa hormat, welas asih, dan empati). Suka cita 540 Hz (perasaan tenang dan hening). Kedamaian 600 Hz (kebahagiaan yang luar biasa). Pen cerahan 700-1000 Hz (tidak bisa digambarkan).

Pembaca yang kreatif, pada saat pengajian Nuzulul Quran di Masjid Al Muhtadin Perum Purwomartani Baru, Kalasan, Sleman, Ustadz Muhammad Jazir menyampaikan bahwa penduduk DI Yogyakarta adalah penduduk paling bahagia di Indonesia. Data ini didukung dengan angka harapan hidup BPS yang menunjukkan data pada 2021 DIY memiliki angka 76,89 tahun, tertinggi di Indonesia. 

Namun ada yang menarik, dari data yang bersumber dari laman bappeda.jogjaprov.go.id, DIY memiliki jumlah penduduk sebanyak 3.322.727 jiwa pada 2021. Presentase penduduk miskin adalah 12.80 persen atau sejumlah 506.450 jiwa. Artinya di DIY sendiri ada sekitar 500 ribu penduduk yang berada dalam garis kemiskinan. Jika kita tarik korelasi, memberikan pandangan bahwa ada penduduk yang sangat kekurangan secara ekonomi namun rasa bahagia hadir dalam kehidupan mereka. Pertanyaannya mengapa? Kok bisa ya? Kita kembalikan lagi kepada frekuensi David R Hawkins.

"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram"

Bersyukur atau menerima itu berada pada frekuensi 350 Hz, yaitu dalam zona energi positif. Kalau merujuk juga pada ulasan dr. Aisah Dahlan, CHt., ketika bersama menjadi narasumber di seminar pendidikan dan parenting yang dilaksanakan oleh Yayasan Pendidikan Daarut Tauhiid Rahmatanlil ‘Alamin, bahwa menerima (acceptance) membuat seseorang berada dalam nafsu muthmainnah, yaitu jiwa yang tenang karena keimanan, amal soleh, dan ketaatan kepada Tuhannya.

Pembaca yang kreatif, pada saat kondisi menerima itulah seseorang berada dalam zona ikhlas. ”Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS Ar-Ra’d:28.

Sehat dan teruslah terinspirasi.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 29 April 2022 Rubrik Inspira halaman 8.


BAGIKAN