Zona Ikhlas 2 (Tulus Memaafkan)

Pembaca yang kreatif, melanjutkan ulasan David R Hawkins bahwa keadaan memaafkan juga berada pada frekuensi 350 Hz sama dengan bersyukur (menerima). Idul Fitri adalah saat di mana kita bersama-sama memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara, tetangga, sahabat dan relasi bisnis. Baik bertemu secara langsung maupun hanya mengirimkannya pesan WhatsApp. 

Pertanyaannya adalah apakah permohonan maaf yang kita lakukan atau ucapkan hanya sebatas seremonial karena ini adalah syawalan? Ataukah memang Idul Fitri ini adalah momen kita untuk tulus mengungkapkan permohonan maaf? Ketulusan menyampaikan permohonan maaf bisa dilihat dari gestur tubuh Anda. Lihat dan ingatlah bagaimana perhatian yang Anda berikan ketika bertemu dengan orang lain secara langsung. Apakah tatapan anda fokus, tulus serta penuh perhatian dalam menyampaikan pernyataan “Mohon maaf lahir dan batin?” 

Bisa jadi kejadiannya seperti ini, Anda menyalami mereka namun pandangan anda sudah ke orang selanjutnya. Pada saat dengan orang yang sangat kita kenal dan baik interaksinya selama ini. Kita sangat tulus mengungkapkan penuh senyuman dengan mimik wajah yang bersahaja. Namun ketika orang yang kita jumpai ternyata tidak begitu dikenal, maka ucapan sekadarnya saja. Bahkan yang membuat seseorang grogi justru ketika harus melewati orang yang sering berselisih paham dengannya. 

Namun karena syawalan ini dilaksanakan serentak di masjid, masing-masing pribadi harus mengelilingi semua orang yang ada di masjid itu. Tampak kegelisahan di raut wajahnya ketika melewati orang yang tidak disukainya itu. Ucapan maaf hanya sekedar ucapan, tidak membekas di pikiran dan hati. Lihat saja satu bulan ke depan, semua akan kembali seperti sedia kala, biasa lagi, masalah lagi.

Pembaca yang kreatif, ketulusan memaafkan dalam syawalan tentu sangat berarti. Hanya orang-orang yang berhati mulialah memaafkan penuh keikhlasan. Cirinya mudah saja, tidak mengungkit kembali persoalan yang sudah-sudah. 

Ketika Anda tergerak kembali untuk mengungkit kejadian yang sudah pernah terjadi, maka segeralah berganti topik dan beristighfarlah. Karena dengan begitu pikiran-hati anda akan segera tenang. 

Walaupun ada teman yang mengatakan kepada saya tidak akan semudah itu. Saya yakin tidak mudah itu karena setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda. Tentu semua berproses. Namun frekuensi yang masuk dalam zona energi positif akan bisa melakukannya. Ingatlah kebaikan orang itu walaupun mungkin tidak banyak. 

Mengingat kebaikannya justru memberikan pandangan lebih baik dan menyenangkan. Bayangkanlah ketika persoalan itu berlarut-larut dialami seseorang. Bertemu pun akan berusaha menghindar. Dalam satu forum pun akan terlihat berjarak pandangan. 

Pembaca yang kreatif, memaafkan itu meringankan beban hidup. Saya melihat setelah halal bihalal di masjid, Pak Sujadi meneteskan air mata. Kebahagiaan terlihat sekali di raut wajahnya. Tulus meminta maaf dan kecintaan untuk bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan. 

Pak Sujadi yang saya kenal penuh humor, sempat dianugerahi sakit stroke. Pak Sujadi berdoá kepada Allah untuk diberikan kesembuhan agar bisa selalu azan di masjid. Motivasi yang sangat kuat, termasuk menerima dengan tulus ikhlas apa yang beliau alami telah membuat kondisi fisik yang semakin sehat. Sejak beberapa bulan lalu dan banyak di Ramadhan hingga saat ini dalam sholat lima waktu, lantunan azan Pak Sujadi berkumandang penuh semangat.

Pembaca yang kreatif, izinkan saya dengan tulus mengucapkan, Taqabba lallahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum, Waja’alanallahu Minal ‘aidin Wal Faizin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin.

Sehat dan teruslah terinspirasi.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 6 Mei 2022 Rubrik Inspira halaman 8.


BAGIKAN