Pembaca yang kreatif, dalam interaksi kita dengan lingkungan, baik lingkungan kantor masyarakat, termasuk media sosial, terkadang membuat ego kita terusik. Hal itu bisa disebabkan situasi yang tidak nyaman dalam berkomunikasi. Target yang diinginkan tidak tercapai. Harapan tidak terwujud, serta cenderung membuat emosional hadir berperan. Mengapa ego bisa tersentuh? Dalam kuliah umum bersama Prof M. Suyanto dengan ANDI Academy, jika kita lihat tingkatannya, ego itu menjadi tiga bagian, yaitu ego pribadi, ego keluarga dan ego masyarakat (lebih luas).
Apa yang terjadi jika ego pribadi yang tersentuh maka orang akan mempertahankan apapun yang menjadi keinginan, dan akan berusaha untuk mewujudkan itu. Nah yang menjadi persoalan adalah apabila ego negatif yang masuk (tersulut). Kejadian dialami sendiri oleh teman saya. Dia dipanggil ke kantor pusat, dikucilkan (tidak diberi pekerjaan), bahkan dibiarkan saja menunggu sesuatu yang tidak pasti. Persoalannya adalah ego pimpinannya yang terusik karena merasa dilangkahi dan menganggap teman saya ini sudah tidak lagi setia dan mencoba ‘menikung’ pimpinannya.
Padahal itu semua disebabkan karena informasi yang tersampaikan tidak lengkap dan cende rung negatif (menghasut). Cara berpikir jernih menjadi tantangan ketika seseorang menjadi pimpinan. Kadang dia menelepon saya untuk sekadar bercerita. Kalau melihat ego rasanya ingin segera keluar atau mengajukan pensiun dini. Tapi saya juga kadang memberikan perumpamaan, bahwa sebuah per akan memantul lebih tinggi apabila per itu ditekan.
Semakin ditekan ke bawah maka akan berpotensi mantul lebih tinggi. Milikilah keyakinan bahwa semua adalah bagian dari proses. Walaupun jika melihat ego pribadi, rasanya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dedikasi yang sudah dilakukan puluhan tahun seakan sirna dengan situasi tersebut.
Pembaca yang kreatif, berselang sepekan, teman saya sudah mulai berpikir bagaimana dengan nasib keluarganya, jika buru-buru memutuskan sesuatu. Egonya sudah mulai terurai lebih luas. Berpikir keluarganya. Apa yang dilakukannya bukan hanya persoalan dirinya saja saat ini, namun sudah masuk pada tatanan keluarga. “Dapur harus tetap ngebul”, itulah kalimat yang sering kita dengar dari orang-orang agar mereka mempertahankan semangat dan optimisme mereka dalam melewati kesulitan.
Pembaca yang kreatif, kami melanjutkan komunikasi setelah melewati masa tiga pekan. Apa yang terjadi? Ego teman saya sudah mulai terurai lebih luas lagi. Dia mengatakan, “Saya mengikuti saja dulu kondisinya, Mas. Saya menerima apapun yang terjadi. Saat ini yang tepat bagi saya adalah tidak memaksa dan tidak menuntut untuk memberikan penjelasan apapun. Menunggu saja, semoga ada hikmah dibalik ini semua.”
Saya melihat egonya sudah masuk kepada tatanan lebih luas yaitu kepasrahan menerima ketentuan yang terjadi. Semoga dengan keikhlasan yang dia rasakan akan muncul suatu keajaiban yang tidak terduga. Karena menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Wakafa billahi wakiilaa (Dan cukuplah Allah sebagai pelindung).
Sehat dan sukses selalu.
Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 23 April 2021 Rubrik Inspira halaman 8.
Komentar & Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tinggalkan Komentar