Super Mahasiswa
Refleksi pribadi
Rachmat N
Beberapa tahun lalu, saya melakukan power exercise (meskipun dalam mode ‘rerasan’) dengan menyematkan label ‘manipulatif-narsistik’ ke mahasiswa yang dianggap hebat, seorang finalis Mawapres di tingkat kampus. Anak yang hobinya menulis berita sendiri (overglorify) di media, dan sempat sekali saya ketahui mengambil yang bukan haknya. Di tahun yang berbeda, menyaksikan seorang mahasiswi berprestasi yang kebingungan dengan data yang disuguhkan. Terasa janggal menuju palsu, itu tuduhan saya. Namun, kemasan yang seakan-akan logis dengan bingkai bahasa Inggris yang lumayan cas cis cus membuat mayoritas juri menganggap pantas sebagai Mawapres.
Saat ini keduanya masih sama, sangat suka spotlighted, diangap wah. Namun, kena batunya. Terketahui fraudnya, terkuak bohongnya. Di kancah internasional mereka berhasil membuat framing negatif baru untuk peneliti Indonesia. Peneliti yang berbohong.
Respon paling keras namun dengan mode sedih, “Lah, mereka khan mantan Mawapres lho.” Ini seakan mengamini kekecewaan lain saat mengetahui juara nasional mawapres lainnya ‘menipu’ melalui biodatanya atau dia mawapres lain (belum level nasional) menjadi pelaku kekerasan seksual di kampusnya.
“Bukan salah Mawapresnya ya!!,”
Kalimat itu yang paling manjur dan sering terungkap.
Saya tidak membahas aib Indonesia karena dua mantan Mawapres tersebut. Terlalu sedih dan muak.
Menurut keyakinan saya, ada sesuatu yang diam-diam bergeser dalam cara kampus (mahasiswa) memaknai “mahasiswa berprestasi.”
Ajang ini lahir dengan gagasan mulia: menemukan sosok mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral, aktif secara sosial, kuat dalam riset, cakap berbahasa asing, dan mampu menjadi representasi terbaik institusinya. Gelar itu seharusnya menjadi bentuk penghormatan terhadap proses panjang pembentukan intelektual dan karakter.
Namun perlahan, makna itu mengalami pergeseran.
Panggung kompetisi menjadi semakin megah. Portofolio menjadi semakin tebal. Standar menjadi semakin tinggi. Dan tanpa disadari, kampus mulai membangun satu imajinasi baru tentang mahasiswa ideal, yakni manusia yang harus unggul dalam berbagai dimensi sekaligus, nilai akademik bagus, menulis dengan hebat, bermanfaat secara sosial, dan komunikasi mendunia. Rentetan tuntutan mungkin seperti:
memiliki IPK nyaris sempurna.
memenangkan lomba nasional dan internasional.
aktif organisasi.
meneliti.
berbicara bahasa Inggris/asing dengan fasih.
mengabdi pada masyarakat.
menjadi pemimpin.
inspiratif.
terlihat produktif setiap saat.
Singkatnya, mahasiswa harus menjadi Super Mahasiswa.
Menurut keyakinan saya, manusia tidak diciptakan untuk menjadi sempurna di semua hal. Tuntutan kesempurnaan multidimensi secara bersamaan justru tidak lagi melahirkan keunggulan yang otentik, melainkan kecemasan kolektif untuk terlihat unggul.
Pada posisi inilah lomba baik-baikan prestasi mulai menyimpan paradoksnya sendiri.
Alih-alih melahirkan individu dengan keunggulan yang khas dan mendalam (distinctive excellence), sistem ini lebih mendorong mahasiswa menjadi seragam dalam ambisi. Semua orang mengejar hal yang sama, dengan pola yang sama, demi portofolio yang tampak sama-sama mengagumkan. Mahasiswa menjadi samar bertanya, “Apa bidang yang benar-benar saya kuasai?” melainkan lebih kuat bertanya, “Apa lagi yang bisa saya tambahkan ke CV saya?”
Menurut keyakinan saya, mahasiswa dipaksa menjadi generalis ekstrem yang sibuk mengoleksi pengalaman, tetapi sering kali tidak memiliki ruang cukup untuk membangun keahlian yang benar-benar matang dan khas. Mereka belajar menjadi “baik dalam banyak hal,” tetapi tidak memiliki kesempatan menjadi luar biasa dalam satu hal secara jujur dan mendalam.
Kampus kemudian menghasilkan banyak mahasiswa dengan portofolio gemerlap dengan check list berbagai dimensi keunggulan, tetapi dengan identitas intelektual yang kabur. Semua terlihat hebat, tetapi sulit dibedakan. Semua produktif, tetapi sering kali kehilangan orisinalitas. Budaya ini juga melahirkan relasi yang problematik dengan prestasi itu sendiri. Sertifikat menjadi simbol legitimasi diri. Publikasi menjadi alat branding. Organisasi menjadi ornamen CV. Bahkan pengabdian masyarakat pun kadang berubah menjadi dokumentasi estetis untuk kebutuhan seleksi.
Tentu tidak ada panduan resmi yang mengajarkan mahasiswa untuk berbohong. Tidak ada dewan juri yang meminta manipulasi data. Tetapi sistem sosial tidak selalu bekerja melalui instruksi langsung; kadang ia bekerja melalui insentif diam-diam. Ketika kampus terus digempur oleh narasi memuliakan pencapaian yang spektakuler, mahasiswa perlahan belajar bahwa menjadi “biasa” adalah kegagalan. Maka lahirlah dorongan untuk tampil luar biasa dengan cara apa pun.
Dalam atmosfer seperti ini, manipulasi menjadi godaan yang sangat dekat.
Awalnya kecil: melebihkan peran dalam kepanitiaan, mencantumkan kontribusi yang sebenarnya minimal, memperbesar dampak kegiatan, memoles narasi riset, atau memasukkan pencapaian yang samar validitasnya.
Tindakan-tindakan ini mungkin tampak sepele, bahkan sering dianggap “lumrah” selama tidak ketahuan. Namun pengulangan kecil yang terus-menerus perlahan mengikis sensitivitas moral. Kebohongan berubah menjadi strategi. Integritas menjadi sesuatu yang fleksibel selama portofolio tetap terlihat impresif.
Menurut keyakinan saya. prestasi tidak otomatis mencerminkan moralitas. Keduanya tidak tumbuh dari akar yang sama. Mahasiswa bisa sangat terlatih untuk menang, tetapi tidak pernah benar-benar dididik untuk memahami makna kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi.
Kehebatan juri dan keberadaan tes psikologi dan penilaian moral sering kali tidak benar-benar menyelesaikan persoalan mendasarnya. Dewan juri sering mampu mendeteksi manipulasi data, kecenderungan narsistik, inkonsistensi karakter, atau ketidakjujuran tertentu sehingga peserta gagal menjadi juara. Namun persoalannya tidak berhenti pada hasil akhir kompetisi. Sebab meskipun individu tersebut gugur, pesan ideologis yang beredar di lingkungan kampus tetap sama: mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang mampu menjadi segalanya sekaligus. Sinyal kuat yang tertangkap adalah bahwa untuk dianggap unggul, mahasiswa harus mengoleksi sebanyak mungkin prestasi, organisasi, publikasi, sertifikat, dan pengalaman. Dengan demikian, tes psikologi mungkin berhasil menyaring beberapa kasus manipulasi, tetapi tidak menghentikan reproduksi imajinasi tentang “super mahasiswa” yang harus menjadi generalis multidimensi demi mendapatkan pengakuan institusional. Akibatnya, mahasiswa tetap tumbuh dalam tuntutan untuk terus membangun citra sempurna, bukan untuk memahami dirinya sendiri secara jujur dan mendalam
“Super mahasiswa” diam-diam membentuk generasi yang kelelahan secara psikologis. Mereka hidup dalam tekanan untuk terus relevan, terus produktif, terus terlihat unggul. Tidak ada ruang untuk biasa-biasa saja. Kampus akhirnya tidak hanya menciptakan kompetisi prestasi, tetapi juga kompetisi citra diri. Dan ketika citra menjadi lebih penting daripada substansi, maka yang lahir adalah generasi yang sangat piawai membangun narasi kesuksesan, tetapi rapuh dalam fondasi etikanya.
Society is not destroyed by people who fail to achieve enough. It is destroyed when briliance loses its conscience.
Muntilan, Lereng Merapi, Idul Adha 2026