Super Mahasiswa
Rachmat N
Dunia akademisi tersentak hebat saat peneliti Indonesia terkuak kebohongannya, membuat framing negatif di kancah internasional. Mereka berbohong bukan hanya dengan data riset, tetapi juga dengan nama institusi. Mereka bukan sarjana biasa. Mereka finalis pemilihan mahasiswa berprestasi.
Salah satu yang dianggap berbahaya di dunia pendidikan adalah kemunculan silent incentives atau penghargaan sosial yang tidak kasat namun mendorong mahasiswa mengejar prestasi dengan cara apapun. Insentif ini bekerja secara halus dengan menyuguhkan kekaguman publik, pengakuan sosial, pujian institusi, dan status simbolik sebagai mahasiswa hebat. Mitchel Foucault mengagas fenomena ini sebagai disclipinary society tempat individu mengatur dirinya berdasarkan harapan dan sistem evaluasi sosial. Selaras dengan hal tersebut, Baudrillard menyebutnya sebagai simulacra, kondisi ketika citra menajdi lebih penting daripada realita. Insentif ini menimbulkan tekanan psikologis yang secara pelan menormalisasi ketidakjujuran.
Terdapat sesuatu yang diam-diam bergeser dalam cara kampus memaknai prestasi. Di Indonesia, ajang prestasi menjadi subur sebagai jembatan kesuksesan, entah demi masuk ke sekolah favorit, mendapat beasiswa, atau sekedar pamer di media sosial. Pemilihan mahasiswa berprestasi memunculkan gagasan mulia yakni menemukan sosok mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral, aktif secara sosial, kuat dalam riset, cakap berbahasa asing, dan mampu menjadi representasi terbaik institusinya.
Namun, perlahan, makna itu mengalami pergeseran. Prestasi berubah menjadi panggung megah. Standar menjadi semakin tinggi. Dan tanpa disadari, kampus mulai membangun satu imajinasi baru tentang mahasiswa ideal, yakni manusia yang harus unggul dalam berbagai dimensi sekaligus, nilai akademik bagus, menulis dengan hebat, bermanfaat secara sosial, dan komunikasi mendunia. Singkatnya, mahasiswa harus menjadi Super Mahasiswa. Tuntutan kesempurnaan multidimensi secara bersamaan justru tidak lagi melahirkan keunggulan yang otentik, melainkan kecemasan kolektif untuk terlihat unggul. Pada posisi inilah pemilihan mahasiswa berprestasi mulai menyimpan paradoksnya sendiri.
Alih-alih melahirkan individu unggul dan khas (distinctive excellence), sistem ini lebih mendorong mahasiswa menjadi seragam dalam ambisi. Semua orang mengejar hal yang sama, dengan pola yang sama, demi portofolio yang tampak sama-sama mengagumkan. Mahasiswa menjadi samar bertanya, “Apa bidang yang benar-benar saya kuasai?” melainkan lebih kuat bertanya, “Apa lagi yang bisa saya tambahkan ke CV saya?”
Alhasil, mahasiswa dipaksa menjadi generalis ekstrem yang sibuk mengoleksi pengalaman, tetapi sering kali tidak memiliki ruang cukup untuk membangun keahlian yang benar-benar matang dan khas. Mereka belajar menjadi “baik dalam banyak hal,” tetapi tidak memiliki kesempatan menjadi luar biasa dalam satu hal secara jujur dan mendalam.
Kampus kemudian menghasilkan banyak mahasiswa dengan portofolio mencakup berbagai dimensi keunggulan. Budaya ini juga melahirkan relasi yang problematik dengan prestasi itu sendiri. Sertifikat menjadi simbol legitimasi diri. Publikasi menjadi alat branding. Organisasi menjadi ornamen CV. Bahkan pengabdian masyarakat pun kadang berubah menjadi dokumentasi estetis untuk kebutuhan seleksi.
Tentu tidak pernah ada panduan resmi yang menuntun mahasiswa untuk berbohong. Tetapi sistem sosial tidak selalu bekerja melalui instruksi langsung. Ketika kampus terus digempur oleh narasi memuliakan pencapaian yang spektakuler, mahasiswa perlahan belajar bahwa menjadi “biasa” adalah kegagalan. Maka lahirlah dorongan untuk tampil luar biasa dengan cara apa pun. Dalam kondisi seperti ini, manipulasi menjadi godaan yang sangat kuat. Tindakan kecil seperti melebihkan peran dalam kepanitiaan, mencantumkan kontribusi yang sebenarnya minimal, memperbesar dampak kegiatan, memoles narasi riset, atau memasukkan pencapaian yang samar validitasnya dianggap lumah dan mengikis sensitivitas moral. Pada posisi ini, kebohongan berubah menjadi strategi. Intergritas menjadi fleksibel selama protofolio terlihat impresif. Mahasiswa bisa sangat terlatih untuk menang, tetapi tidak pernah benar-benar dididik untuk memahami makna kejujuran.
Pesan ideologis yang beredar di lingkungan kampus semakin kuat, yakni mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang mampu menjadi segalanya sekaligus. Dengan demikian, semakin kuat reproduksi imajinasi tentang “super mahasiswa”. Akibatnya, mahasiswa tetap tumbuh dalam tuntutan untuk terus membangun citra sempurna, bukan untuk memahami dirinya sendiri secara jujur dan mendalam
“Super Mahasiswa” diam-diam membentuk generasi yang kelelahan secara psikologis. Mereka hidup dalam tekanan untuk terus relevan, terus produktif, terus terlihat unggul. Tidak ada ruang untuk biasa-biasa saja. Kompetisi prestasi berubah menjadi kompetisi citra diri. Ketika citra menjadi lebih penting daripada substansi, maka yang lahir adalah generasi yang sangat piawai membangun narasi kesuksesan, tetapi rapuh dalam fondasi etikanya.
*Biodata Penulis:
Dr. Rachmat Nurcahyo, S.S., M.A. adalah dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta. Selain sebagai dosen, Rachmat juga aktif menjadi adjudicator kompetisi debat nasional dan internasional. Rachmat pernah menjadi juri Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Nasional.
Komentar & Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tinggalkan Komentar